Muter-muter malem ini didunia maya membuat salah satu keinginan saya membuncah. Saya sangat ingin bisa mewujudkannya. Tidak sampai ngoyo memang, hanya saja saya berusaha keras untuk bisa mewujudkannya.
Indah bukan?
:)
In the middle of the night, and the date has changed, 21st July 2013
*pics are taken from google
Sunday, July 21, 2013
Tuesday, July 9, 2013
eR I eS A U ..
Sepertinya ada perubahan waktu tidur saya selama liburan ini. Saya seperti bernostalgia pada beberapa tahun yang lalu, dimana hampir tiap malam saya terjaga. Dan tentu saja dengan konsekuensi meletupnya ide didalam kepala saya, yang jika tidak segera saya tuangkan, maka akan menguap begitu saja. Yah, bisa jadi ini cara "meraut pensil" yang sudah lama terbiarkan tumpul.
Akhir-akhir ini saya risau. Bukan, bukan seperti anak-anak sekarang yang galau tanpa alasan (mulai ketahuan perbedaan usianya, hehehehe). Saya merisaukan sesuatu, yang entahlah kapan saya akan tiba masanya. Saya merisaukan "kedewasaan".
Mungkin yang sering berinteraksi dengan saya tau persis siapa saya. Mengutip perkataan seorang rekan, bahwa saya adalah Tipe C yang sangat sanguinis. Meski tak selamanya saya menjadi C, diwaktu-waktu tertentu saya pun menjadi Tipe A, yang pendiam, berpikir, dan tertutup. Tergantung siapa lawan interaksinya.
Saya adalah seorang sanguinis.
Mungkin saya terlihat amat ceria, terbuka, pokoknya mah nothing to loose, lah. Tapi sesungguhnya, jika malam tiba *tsaah, saya memikirkan apa yang saya lakukan seharian. Saya memanggil kembali ingatan saya hari itu, meski saya akui tidak banyak yang bisa saya recall, hanya bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, dan saya amat noticed didalamnya.
Saya berpikir, memikirkan apa yang terjadi.
Saya merasakan perubahan terjadi dalam diri saya. Titik baliknya adalah ketika saya merantau. Saya mendapat banyak pelajaran yang berharga dari merantau. Merantau membuat saya berpikir, merantau membuat saya menemukan diri saya, yang mungkin berbeda dengan yang tampak.
Mungkin saya naif. Tapi saya tidak sedang berpura-pura, apalagi bermuka dua. Saya yakin orang lain pun punya sisi lain dalam dirinya, yang bisa jadi tidak banyak orang lain tau.
Saya beri sebuah contoh agar mudah dimengerti.
Saya mempunyai seorang kawan, saya mengenalnya dari dunia maya (tapi orang ini nyata kok ^^). Saya awalnya tidak kenal, tapi dari tulisannya saya mengenal kawan yang satu ini. Saya tidak pernah berinteraksi secara langsung. Hanya sebatas tau saja. Namun, banyak teman-teman saya yang ternyata juga mengenal kawan ini. Maka secara tidak langsung saya terhubung dengannya. Saat itu saya mengenalnya dengan segala hal yang kurang baik, bagi saya dan kawan saya ini
Kemudian karena satu dan lain hal, saya bertemu dengan kawan ini. Tidak hanya sehari, dua hari, saya bahkan sudah beberapa kali berperjalanan dengannya. Maka saya mulai mengenal lebih kawan saya. Yah, berperjalanan membuat orang mengenal lebih jauh siapa kita. Ada hal yang baru kemudian saya ketahui tentang kawan saya setelah kami 1 perjalanan. Ada sisi yang selama ini kurang saya pahami,kurang saya ketahui dengan baik. Dan sampailah pada 1 kesimpulan dari segala pemikiran panjang tentang kawan saya, bahwa saya kurang mengenalnya.
Proses saya mengenal kawan saya misalnya, bagi saya merupakan sebuah alur kedewasaan bagi diri saya pribadi. saya benar-benar memposisikan diri seperti layaknya orang yang belajar. Yah, saya sedang belajar berproses menuju kedewasaan. Bahkan ketika saya mulai menerima diri saya yang anak tengah dari 3 bersaudara perempuan semua, ya, itu juga proses pendewasaan saya.
Saya menikmati diri saya yang periang, ceria, jarang sekali marah, open minded. Dan saya pun menikmati diri saya yang berpikir, mendengarkan, dan memilih diam. yah, itulah saya.
Malam ini akhirnya saya putuskan untuk menuliskan sebuah kerisauan saya akan kedewasaan. Saya sedang menjelangnya, yang membaca tulisan saya pun bisa jadi sama dengan saya, sedang menjelangnya (atau mungkin beberapa sudah lewat). Proses menuju kedewasaan mungkin sangat panjang dan bisa jadi tidak mudah, namun saya siap. Saya akan menyiapkan diri saya dengan sebaik mungkin, dengan berbagai perbekalan yang selama ini saya peroleh (dari belajar, dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, dari mana saja).
Karena saya ingin proses ini berjalan dengan indah.
In the middle of the night, 9th July 2013 at 00.18
Nisa Rachma
Akhir-akhir ini saya risau. Bukan, bukan seperti anak-anak sekarang yang galau tanpa alasan (mulai ketahuan perbedaan usianya, hehehehe). Saya merisaukan sesuatu, yang entahlah kapan saya akan tiba masanya. Saya merisaukan "kedewasaan".
Mungkin yang sering berinteraksi dengan saya tau persis siapa saya. Mengutip perkataan seorang rekan, bahwa saya adalah Tipe C yang sangat sanguinis. Meski tak selamanya saya menjadi C, diwaktu-waktu tertentu saya pun menjadi Tipe A, yang pendiam, berpikir, dan tertutup. Tergantung siapa lawan interaksinya.
Saya adalah seorang sanguinis.
Mungkin saya terlihat amat ceria, terbuka, pokoknya mah nothing to loose, lah. Tapi sesungguhnya, jika malam tiba *tsaah, saya memikirkan apa yang saya lakukan seharian. Saya memanggil kembali ingatan saya hari itu, meski saya akui tidak banyak yang bisa saya recall, hanya bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, dan saya amat noticed didalamnya.
Saya berpikir, memikirkan apa yang terjadi.
Saya merasakan perubahan terjadi dalam diri saya. Titik baliknya adalah ketika saya merantau. Saya mendapat banyak pelajaran yang berharga dari merantau. Merantau membuat saya berpikir, merantau membuat saya menemukan diri saya, yang mungkin berbeda dengan yang tampak.
Mungkin saya naif. Tapi saya tidak sedang berpura-pura, apalagi bermuka dua. Saya yakin orang lain pun punya sisi lain dalam dirinya, yang bisa jadi tidak banyak orang lain tau.
Saya beri sebuah contoh agar mudah dimengerti.
Saya mempunyai seorang kawan, saya mengenalnya dari dunia maya (tapi orang ini nyata kok ^^). Saya awalnya tidak kenal, tapi dari tulisannya saya mengenal kawan yang satu ini. Saya tidak pernah berinteraksi secara langsung. Hanya sebatas tau saja. Namun, banyak teman-teman saya yang ternyata juga mengenal kawan ini. Maka secara tidak langsung saya terhubung dengannya. Saat itu saya mengenalnya dengan segala hal yang kurang baik, bagi saya dan kawan saya ini
Kemudian karena satu dan lain hal, saya bertemu dengan kawan ini. Tidak hanya sehari, dua hari, saya bahkan sudah beberapa kali berperjalanan dengannya. Maka saya mulai mengenal lebih kawan saya. Yah, berperjalanan membuat orang mengenal lebih jauh siapa kita. Ada hal yang baru kemudian saya ketahui tentang kawan saya setelah kami 1 perjalanan. Ada sisi yang selama ini kurang saya pahami,kurang saya ketahui dengan baik. Dan sampailah pada 1 kesimpulan dari segala pemikiran panjang tentang kawan saya, bahwa saya kurang mengenalnya.
Proses saya mengenal kawan saya misalnya, bagi saya merupakan sebuah alur kedewasaan bagi diri saya pribadi. saya benar-benar memposisikan diri seperti layaknya orang yang belajar. Yah, saya sedang belajar berproses menuju kedewasaan. Bahkan ketika saya mulai menerima diri saya yang anak tengah dari 3 bersaudara perempuan semua, ya, itu juga proses pendewasaan saya.
Saya menikmati diri saya yang periang, ceria, jarang sekali marah, open minded. Dan saya pun menikmati diri saya yang berpikir, mendengarkan, dan memilih diam. yah, itulah saya.
Malam ini akhirnya saya putuskan untuk menuliskan sebuah kerisauan saya akan kedewasaan. Saya sedang menjelangnya, yang membaca tulisan saya pun bisa jadi sama dengan saya, sedang menjelangnya (atau mungkin beberapa sudah lewat). Proses menuju kedewasaan mungkin sangat panjang dan bisa jadi tidak mudah, namun saya siap. Saya akan menyiapkan diri saya dengan sebaik mungkin, dengan berbagai perbekalan yang selama ini saya peroleh (dari belajar, dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, dari mana saja).
Karena saya ingin proses ini berjalan dengan indah.
In the middle of the night, 9th July 2013 at 00.18
Nisa Rachma
Friday, July 5, 2013
Movie Marathon
Hai, hai..
Sudah lama tidak menulis.. ^^
Gimana liburannya ?? seru, kah??
Kali ini Nisa mau cerita How I spend my holiday : Movie Marathon
Sepulangnya dari Pulau Sempu dan bales dendam "ngelurusin" punggung setelah sekitar 37 jam duduk di kereta, Nisa sempat berpikir cara menghabiskan Liburan yang berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya. Dan tercetuslah sebuah ide, gimana klo nonton aja yah, seharian di bioskop. Maka tanggal 2 Juli kemarin, Nisa berencana mengeksekusi rencana Movie Marathon.
Ternyata sesiangan ujan. Allohumma shoyyibannafi'a..
Rencana nonton dr jam 12.15 batal. Tapi bukan berarti batal nontonnya. Nisa tetep mutusin berangkat wat nonton jam 14.05. Nonton apa siy, Nis? Hehehe, kali ini saya aga malu njawabnya.
Saya nonton ......
Refrain.
Hehehehe, saya penasaran dengan film yang dibintangi Afghan Syahreza kali ini. Saya udah nonton trailernya juga siy. Saya, hmm, sejujurnya saya katakan,, hmm,, saya ngefans ma Afghan. Hehehehe, mungkin agak aneh, tapi itu sebenarnya. Saya ngefans sejak pertama kali Afghan "terekam" melalui Wannabe instan recording. Saya ngefans sama genre suaranya, serak-serak tapi merdu. Tipe penyanyi ballad song, tapi range vokalnya lumayan.. Klo dari tampang, hmm, saya bukan tipe yang bisa suka dengan orang karena tampang, dan lagi, saya ga bisa liat orang ganteng cuma dari tampang doang. Mungkin karena Afghan berkacamata kali ya, karena saya juga berkacamata. hahahaha, mulai ngelantur.. xp
Eits, maaf jadi malah ngebahas Afghan. Tapi nyambung ko, karena sedikit banyak, saya ingin mendengar suaranya yang saya yakin pasti akan muncul di film, entah di scene yang mana. Yakin saya, ga mungkin tidak, Afghan akan bernyanyi di filmnya, dan itu terbukti.
Dengan lawan main Maudy Ayunda, yang juga bisa nyanyi, menjadi lawan main yang pas wat Afghan.
Secara umum saya cukup terhibur dengan film Refrain ini. Tapi ada hal yang mengganggu saya. Ternyata saat itu sedang ada nonton bareng Afghan dan Maudy, di bioskop tempat saya nonton, diwaktu yang sama dengan jadwal saya nonton. Dan bisa ditebak, acara Movie marathn saya agak bearntakan diawal, karena para fans yang lebay dan crowded. Sampe-sampe, ditengah-tengah scene tiapa ada adegan Afghan-maudy pasti diteriakin. Asli, merusak Movie marathon sayaaaaa, aaaahhhhh....
Ok, sekarang saya akan tetap fokus menilai film. Saya ulangi, bahwa saya cukup menikmati. Meski saya merasa scenenya kecepetan. Baru Afghannya begini, eh tau-tau pindah ke scene yang lain. Durasi, oh durasi. Tapi saya cukup puas mendengarkan Afhan bernyanyi dan bermain piano. Two tumbs up, bro..
Dan hari itu saya hanya menonton 1 film saja.
Lanjut tanggal 4 Juli, saya tetap berniat melakukan Movie marathon. Saya browsing dan liat baik-baik jadwal film yang mau saya tonton, bioskop mana yang akan saya tuju, waktu-waktu mana yang memungkinkan, dengan tidak mengganggu jadwal sholat tentunya. Maka setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk menonton Monster University jam 12.15, lanjut jam 15.45 nonton Despicable Me 2 3D.
Dan seperti hari pertama Movie Marathon, hujan pun turun dari jam 11 siang, aweett bener. Allohumma Shoyyibannafi'a.
Harus membatalkan rencana? Hmm, saya masih berpikir keras untuk tetap bisa mengeksekusi rencana saya. Maka saya browsing ulang jadwal film yang akan saya tonton, meninjau ulang bioskop yang akan saya tuju, dan hasilnya, saya tetap bisa nonton. Kali ini di Blitzmegaplex Central Park, untuk jadwal Monster University jam 16.00 (dimana waktu sholat ashar saya aman) dan Despicable Me 2 3D jam 18.10 (waktu maghrib-an saya juga aman). Saya juga sudah memikirkan durasi masing-masing film, waktu tempuh keluar bioskop-musholla wat sholat-masuk bioskop lagi.
dan sore itu saya kya peserta Running Man.
Saya berangkat dari rumah jam 14.45 mengendarai kurochan, menggunakan raincoat menuju central park. Sampai blitz saya aga kaget. Saya lupa memperhitungkan waktu mengantri. Ini lagi liburan sekolah, brooo, eh sist maksudnya.. :p
Alhamdulillah saya sudah memegang tiket pukul 15.45. lalu saya menuju musholla (alhamdulillah saya masih punya wudhu) dan menyempatkan diri membeli minum di supermarket, dan duduk santai menikmati film yang pertama, Monster University.
Ternyata film pertama mulainya aga terlambat. Film berdurasi 103menit itu mulainya sempet molong 15 menit. Maka saya benar-benar seperti Running man. Begitu film berakhir, saya sudah capcus menuju musholla dan menunaikan sholat maghrib. Di musholla saya bertemu kakak saya, yang juga akan nonton film Despicable Me 2 3D.
Dan saya langsung bergegas menuju auditorium kedua untuk melanjutkan Movie marathon saya.
Mungkin lain waktu, ketika akan melakukan Movie Marathon lagi, saya harus lebih memperhitungkan lagi waktu yang dibutuhkan, dari mulai durasi, kemungkinan film yang dimulai terlambat, waktu mengantri, waktu membeli cemilan termaksud waktu untuk saya makan (hari ini saya belum makan siang dan mengganjal dengan sebatang coklat dan jelli saja), waktu tempuh keluar bioskop-musholla-masuk bioskop kembali, dan waktu lainnya jika hal-hal tak terduga terjadi.
Seru loh, sensasi berkejaran dengan waktu. Saya begitu menikmatinya..
***
Srengseng, 5 Juli 2013 at 21.15
Nisa Rachma
*ups, ternyata saya lupa nge-publish mpe jam 22.48 >_<
Friday, June 21, 2013
#Giveaway attact.. Siapa mau ikutan ?? ^^
Malam ini saya membaca pengumuman giveaway attact dari salah satu crafter favorit saya, estheticfilia.
Waahh, ada giveaway attact.. >_<
Dulu klo buka websitenya, cuma kebagian mupeng doang, karena telat ndapetin infonya. tapi karena udah follow di socmed, akhirnya notifikasi adanya giveaway attact datang juga..
Asiikkk..
Kali ini ternyata ga cuma estheticfilia yang ngasiy giveaway, ada tusk n Anngraini batik& craft juga.
Kalo tust saya sudah denger, mski saya sering kelewatan klo tusk buka stand kya di festival palang pintu.
Untuk Anggraini batik&craft, saya baru kenal. Salam kenal ya mb.. saya penggemar kerajinan tangan.. ^^v
so, ikutan giveaway-nya yuk..
kali aja bindernotebooknya estheticfilia, atau smallbag-nya tusk, atau bantal cantiknya Anggraini batik&craft bisa saya miliki..
ngarep.com :P
Salam,
Nisa Rachma
Waahh, ada giveaway attact.. >_<
Dulu klo buka websitenya, cuma kebagian mupeng doang, karena telat ndapetin infonya. tapi karena udah follow di socmed, akhirnya notifikasi adanya giveaway attact datang juga..
Asiikkk..
Kali ini ternyata ga cuma estheticfilia yang ngasiy giveaway, ada tusk n Anngraini batik& craft juga.
Kalo tust saya sudah denger, mski saya sering kelewatan klo tusk buka stand kya di festival palang pintu.
Untuk Anggraini batik&craft, saya baru kenal. Salam kenal ya mb.. saya penggemar kerajinan tangan.. ^^v
so, ikutan giveaway-nya yuk..
kali aja bindernotebooknya estheticfilia, atau smallbag-nya tusk, atau bantal cantiknya Anggraini batik&craft bisa saya miliki..
ngarep.com :P
Salam,
Nisa Rachma
Tuesday, June 18, 2013
Ahh, Ayo, ditutup...
Yang baru saya sadari meski telah saya ketahui akhir-akhir ini, ada 2 hal yang harus di tutup :
1. Aurat --> klo ini mah jelas
2. Aib
Karena saya mempercayai, Allah saja meutup aib hamba-hambanya. Ketika saya mengetahui suatu rahasia yang bisa dikatakan aib seseorang, dan saya menjaganya rapat-rapat, maka saat itu sesungguhnya saya berharap, aib yang saya miliki pun akan dijaga kerahasiaannya.
Saya jadi lebih hati-hati dalam bercerita, secara saya orangnya cukup terbuka. Agar saya tidak terlibat penggunjingan, dan agar saya tidak membuka aib orang lain..
yuk, kita tutup rapat-rapat..
^^
1. Aurat --> klo ini mah jelas
2. Aib
Karena saya mempercayai, Allah saja meutup aib hamba-hambanya. Ketika saya mengetahui suatu rahasia yang bisa dikatakan aib seseorang, dan saya menjaganya rapat-rapat, maka saat itu sesungguhnya saya berharap, aib yang saya miliki pun akan dijaga kerahasiaannya.
Saya jadi lebih hati-hati dalam bercerita, secara saya orangnya cukup terbuka. Agar saya tidak terlibat penggunjingan, dan agar saya tidak membuka aib orang lain..
yuk, kita tutup rapat-rapat..
^^
Monday, March 25, 2013
Satu Keputusan Diantara Pilihan-Pilihan yang Ada
Sekitar 2 tahun lalu, saya menghadapi pilihan yang sulit. Pilihan yang untuk sebagian orang mudah, namun situasi saya memberartkan pertimbangan-pertimbangan saya dalam membuat keputusan. Terkadang, pilihan yang ada, yang sederhana sekalipun menjadi berat ketika situasi saat itu penuh dengan hal-hal yang memberatkan. Bahkan ketika saya sudah memutuskan pilihan saya, dengan berbagai pertimbangan tentunya, ternyata merupakan keputusan yang berat untuk orang lain.
Sekarang saya pun berada diantara pilihan-pilihan yang berat, antara terus bertahan atau mundur. Kalau di lagunya Paramore "should I give up or should I just keep chasing pavement?".
Sebenarnya saya masih mempunya waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir, mempertimbangkan segala sesuatunya (kalau versi organisasi, di SWOT gitu). Tapi sepertinya saya harus memberitahukan rencana saya kepada orang lain. Karena lagi-lagi, keputusan yang akan saya buat melibatkan orang lain, bahkan sebuah institusi. Saya jadi takut..
Tapi saya harus membuat keputusan. Keputusan yang sebenarnya sudah ada, namun saya butuh penguatan dari diri saya melalui pertimbangan-pertimbangan agar saya tidak salah membuat keputusan. Agar seminimal mungkin keputusan tersebut tidak membawa kemudhorotan. Agar seminimal mungkin tidak ada yang terugikan termaksud diri saya.
Maka waktu yang tersisa tinggal beberapa hari. Awal bulan depan saya harus menyampaikan hasil pertimbangan saya dan menyatakan keputusan saya. Saya amat berharap keputusan yang saya buat merupakan hasil pertimbangan yang matang, dan tidak semata-mata hawa nafsu saya sebagai manusia.
Bismillah..
Semoga saya bisa memberikan keputusan yang terbaik.
Jakarta, 25th March 2013
Sekarang saya pun berada diantara pilihan-pilihan yang berat, antara terus bertahan atau mundur. Kalau di lagunya Paramore "should I give up or should I just keep chasing pavement?".
Sebenarnya saya masih mempunya waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir, mempertimbangkan segala sesuatunya (kalau versi organisasi, di SWOT gitu). Tapi sepertinya saya harus memberitahukan rencana saya kepada orang lain. Karena lagi-lagi, keputusan yang akan saya buat melibatkan orang lain, bahkan sebuah institusi. Saya jadi takut..
Tapi saya harus membuat keputusan. Keputusan yang sebenarnya sudah ada, namun saya butuh penguatan dari diri saya melalui pertimbangan-pertimbangan agar saya tidak salah membuat keputusan. Agar seminimal mungkin keputusan tersebut tidak membawa kemudhorotan. Agar seminimal mungkin tidak ada yang terugikan termaksud diri saya.
Maka waktu yang tersisa tinggal beberapa hari. Awal bulan depan saya harus menyampaikan hasil pertimbangan saya dan menyatakan keputusan saya. Saya amat berharap keputusan yang saya buat merupakan hasil pertimbangan yang matang, dan tidak semata-mata hawa nafsu saya sebagai manusia.
Bismillah..
Semoga saya bisa memberikan keputusan yang terbaik.
Jakarta, 25th March 2013
Tuesday, February 19, 2013
Masalah buat Loohh ??
Masalah..
Siapa yang tidak mempunyai masalah? Saya rasa bohong apabila ada orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Bahkan ketika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai masalah, justru ia sedang bermasalah.
Hidup tanpa masalah. Masalah? Ga masalah. Banyak slogan mengunakan kata-kata masalah.
Kemarin saya mengisi dikelas 9, tidak belajar secara formal memang. Saya hanya diminta untuk memoderatori sesi berbagi. 4 orang siswa datang ke sebuah seminar tentang Anger Management, and mostly talk about problem. Dan siang itu karena partner saya tidak masuk, akhirnya kami hanya megadakan sharing. Tetap belajar juga kan?
Hari itu saya tidak banyak bicara. Keempat siswa yang menjadi center of attention. Dan diskusi sederhana pun mengalir dengan mudahnya. Keempat siswa menceritakan apa yang didapat dari seminar tersebut.
Banyak yang saya tangkap dari yang mereka sampaikan, Bahwa masalah merupakan salah satu proses kehidupan. bahwa masalah merupakan sesuatu yang memang harus dihadapi oleh orang yang hidup. Dan masalah hanya perbedaan cara pandang menyikapinya saja. Apa yang menurut kita masalah, belum tentu masalah untuk orang lain, begitu pula sebaliknya.
Saya mennutup diskusi dengan meminta seluruh siswa menuliskan 3 permasahan yang sedang mereka hadapi diselembar kertas tanpa perlu diberi nama. kemudian dikumpulkan dan dilipat. Sehingga saya tidak mengetahui siapa penulis masalah-masalah tersebut. Kemudian saya memberikan 1 lembar lagi untuk mereka tulis. Saya minta menuliskan solusi, kah? Tidak.
Saya meminta mereka menuliskan kekuatan mereka. Apa yang mereka miliki, ada saja pendukung mereka dalam menghadapi masalah.
Karena seringkali kita sibuk dengan sesuatu yang menurut kita masalah. Padahal kita punya kekuatan, pendukung, supporting system untuk menghadapi setiap masalah yang ada.
Ada Allah disetiap permasalahan yang kita hadapi. Ada orang tua, teman, guru, serta orang-orang sekitar kita yang siap membantu kita menghadapi masalah. Ada keyakinan diri bahwa kita mampu menghadapi masalah. Dan lain-lain.
So, Masalah? Ya ga masalah..
^^
Tuesday, 19th February 2013
Nisa Rachma
n.b.: Thanks for my students that had inspired me making this lil' stuff..
Siapa yang tidak mempunyai masalah? Saya rasa bohong apabila ada orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Bahkan ketika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai masalah, justru ia sedang bermasalah.
Hidup tanpa masalah. Masalah? Ga masalah. Banyak slogan mengunakan kata-kata masalah.
Kemarin saya mengisi dikelas 9, tidak belajar secara formal memang. Saya hanya diminta untuk memoderatori sesi berbagi. 4 orang siswa datang ke sebuah seminar tentang Anger Management, and mostly talk about problem. Dan siang itu karena partner saya tidak masuk, akhirnya kami hanya megadakan sharing. Tetap belajar juga kan?
Hari itu saya tidak banyak bicara. Keempat siswa yang menjadi center of attention. Dan diskusi sederhana pun mengalir dengan mudahnya. Keempat siswa menceritakan apa yang didapat dari seminar tersebut.
Banyak yang saya tangkap dari yang mereka sampaikan, Bahwa masalah merupakan salah satu proses kehidupan. bahwa masalah merupakan sesuatu yang memang harus dihadapi oleh orang yang hidup. Dan masalah hanya perbedaan cara pandang menyikapinya saja. Apa yang menurut kita masalah, belum tentu masalah untuk orang lain, begitu pula sebaliknya.
Saya mennutup diskusi dengan meminta seluruh siswa menuliskan 3 permasahan yang sedang mereka hadapi diselembar kertas tanpa perlu diberi nama. kemudian dikumpulkan dan dilipat. Sehingga saya tidak mengetahui siapa penulis masalah-masalah tersebut. Kemudian saya memberikan 1 lembar lagi untuk mereka tulis. Saya minta menuliskan solusi, kah? Tidak.
Saya meminta mereka menuliskan kekuatan mereka. Apa yang mereka miliki, ada saja pendukung mereka dalam menghadapi masalah.
Karena seringkali kita sibuk dengan sesuatu yang menurut kita masalah. Padahal kita punya kekuatan, pendukung, supporting system untuk menghadapi setiap masalah yang ada.
Ada Allah disetiap permasalahan yang kita hadapi. Ada orang tua, teman, guru, serta orang-orang sekitar kita yang siap membantu kita menghadapi masalah. Ada keyakinan diri bahwa kita mampu menghadapi masalah. Dan lain-lain.
So, Masalah? Ya ga masalah..
^^
Tuesday, 19th February 2013
Nisa Rachma
n.b.: Thanks for my students that had inspired me making this lil' stuff..
Thursday, February 14, 2013
Aku dan Sahabatku
Aku ingin bercerita, sebuah cerita yang kudengar dan disampaikan oleh salah seorang guruku.
Ada seorang sahabat, sebut saja bernama Abdulloh. Abdulloh ini belum menikah, dan ia berkeinginan untuk menikah. Bermaksud memenuhi keinginannya, Abdulloh datang kepada sahabatnya, sebut saja bernama Muhammad.
Abdulloh meminta bantuan kepada Muhammad untuk membantunya mewujudkan keinginannya untuk menikah. "Ya, Muhammad sahabatku. Aku ingin menikah. Tapi aku tidak punya uang. Maukah kau membantuku?". Lalu Muhammd menjawab,"Aku akan membantumu. Kembalilah besok".
Keesokan harinya, Abdulloh mendatangi Muhammad. Muhammad menyerahkan sekantung uang. Dan Abdulloh menyelenggarakan pernikahannya.Setelah beberapa lama, Abdulloh mengunjungi rumah Muhammad, sahabatnya. Ini pertama kalinya ia bersilaturahim setelah menikah.
Saat Abdulloh mengunjungi Muhammad dirumahnya, Abdulloh terkejut.
Rumah sahabatnya kosong. Tidak ada Kursi, tidak ada lemari, tidak ada perlengkapan rumahnya. Kosong."Ya, Muhammad sahabatku. Apa yang terjadi dengan rumahmu? mengapa kosong? Dimanakah perlengkapan rumahmu, sahabat?"
Terdiam sesaat, kemuddian Muhammad menjawab," Aku sudah menjualnya, sahabatku. Aku menjualnya untuk membantumu menikah".
***
Kira-kira seperti itu kisahnya. Muhammd rela menjual peralatan rumahnya untuk membantu sahabatnya menikah. Meskipun Muhammad sendiri belum menikah dan juga berkeinginan untuk menikah. Tapi ia memilih dengan kesadarannya untuk mendahulukan sahabatnya.
Ia merasa yakin, bahwa ia masih sanggup berpuasa untuk menahan dirinya. Tapi belum tentu sahabatnya bisa. Ia merasa yakin ia sanggup menahan keinginannya untuk menikah, tapi belum tentu sahabatnya mampu. Maka Ia memilih mendahulukan sahabatnya. laki-laki mulia itu adalah Sayyid Quthb.
Kisah tersebut seperti menamparku keras-keras. Aku sadar, aku belum bisa seperti seorang Sayyid Quthb yang mendahulukan sahabatnya. Aku masih belum apa-apa.
Ketika sahabatku mengalami kesulitan, aku ingin membantunya, meski belum bisa membatu sepenuh Sayyid Quthb membantu sahabatnya.
Aku ingin...
T_T
Tuesday, January 29, 2013
Teduh
Siapa yang pernah melewati flyover permata hijau-simprug?
Kalau pernah melewatinya, pernahkah memperhatikan ada sebuah pohon yang daunnya sudah meranggas seluruhnya di tengah jalan. Ya, pohon itu menjadi "pengalih dunia" bagi saya. pohon itu satu-satunya pohon yang berfungsi sebagai perindang jalan, namun tidak memiliki daun satu helaipun.
Banyak pohon di kota jakarta yang sengaja memang ditumbuhkan di tengah atau dipinggir jalan, fungsinya mungkin untuk merindangkan atau menghijaukan kota. sebagai paru-paru atas polusi jakarta juga. Dari sekian banyak pohon yang ada dijalan, entah kenapa saya begitu tertarik dengan pohon yang satu ini.
padahal pohon ini tidak memiliki daun satu helaipun. padahal pohon ini tidak berbeda dengan pohon-pohon yang ada dijalan lainnya. padahal pohon ini bukan pohon emas #mulai ngaco.
ya, pohon ini membuat saya merenung. Bahkan saya sempat membayangkan betapa rindangnya pohon ini jika ditumbuhi daun-daun. yah, ranting-ranting pohin ini terlihat merindangkan. Bentuk pohon dengan banyaknya ranting yang berkumpul menjadi satu ini begitu menarik.
kata orang, no pics=hoax.
saya tidak bermaksud hoax, tapi saya sengaja memancing rasa ingin tau orang lain yang membaca tulisan saya akan pohon ini. karena di foto dengan yang asli begitu berbeda.
sudah tau pohon yang saya maksud??
apakah kalian juga merasakan hal yang sama dengan saya saay melihat pohon yang saya ceritakan??
^^
Kalau pernah melewatinya, pernahkah memperhatikan ada sebuah pohon yang daunnya sudah meranggas seluruhnya di tengah jalan. Ya, pohon itu menjadi "pengalih dunia" bagi saya. pohon itu satu-satunya pohon yang berfungsi sebagai perindang jalan, namun tidak memiliki daun satu helaipun.
Banyak pohon di kota jakarta yang sengaja memang ditumbuhkan di tengah atau dipinggir jalan, fungsinya mungkin untuk merindangkan atau menghijaukan kota. sebagai paru-paru atas polusi jakarta juga. Dari sekian banyak pohon yang ada dijalan, entah kenapa saya begitu tertarik dengan pohon yang satu ini.
padahal pohon ini tidak memiliki daun satu helaipun. padahal pohon ini tidak berbeda dengan pohon-pohon yang ada dijalan lainnya. padahal pohon ini bukan pohon emas #mulai ngaco.
ya, pohon ini membuat saya merenung. Bahkan saya sempat membayangkan betapa rindangnya pohon ini jika ditumbuhi daun-daun. yah, ranting-ranting pohin ini terlihat merindangkan. Bentuk pohon dengan banyaknya ranting yang berkumpul menjadi satu ini begitu menarik.
kata orang, no pics=hoax.
saya tidak bermaksud hoax, tapi saya sengaja memancing rasa ingin tau orang lain yang membaca tulisan saya akan pohon ini. karena di foto dengan yang asli begitu berbeda.
sudah tau pohon yang saya maksud??
apakah kalian juga merasakan hal yang sama dengan saya saay melihat pohon yang saya ceritakan??
^^
Wednesday, January 9, 2013
Anak Bawang
Dulu, waktu saya kecil, ada istilah namanya Anak Bawang. Anak bawang itu berarti anak yang di setiap permainan ia selalu menjadi anak yang dibantu. Ya, dibantu karena ke-kurang bisa-an anak dalam mengikuti permainan. Tapi anak ini tetap bisa mengikuti permainan walaupun dibantu.
Saya sering di posisi sebagai anak bawang. Kalau main lompat tali, harusnya melompat 5x maka saya melompat hanya bisa 4 x kemudian "dibela", dimana orang yang membela anak bawang akan melompat sebagaimana seharusnya, yaitu sebanyak 5x.
Yah, tidak hanya pada permainan lompat tali saja, hampir setiap permainan tradisional saya selalu berposisi sebagai anak bawang. Dan saya selalu berharap suatu saat nanti saya bisa berada pada posisi "pembela" bukan "anak bawang".
Saya senang karena saya tetap bisa mengikuti permainan, namun saya sedih karena selalu dianggap tidak bisa dan dibutuhkan untuk dibantu..
*tadinya mau curcol, tetep nyambung ga yah??
Saya sering di posisi sebagai anak bawang. Kalau main lompat tali, harusnya melompat 5x maka saya melompat hanya bisa 4 x kemudian "dibela", dimana orang yang membela anak bawang akan melompat sebagaimana seharusnya, yaitu sebanyak 5x.
Yah, tidak hanya pada permainan lompat tali saja, hampir setiap permainan tradisional saya selalu berposisi sebagai anak bawang. Dan saya selalu berharap suatu saat nanti saya bisa berada pada posisi "pembela" bukan "anak bawang".
Saya senang karena saya tetap bisa mengikuti permainan, namun saya sedih karena selalu dianggap tidak bisa dan dibutuhkan untuk dibantu..
*tadinya mau curcol, tetep nyambung ga yah??
Tuesday, January 8, 2013
When you are in "K.E.P.O" position
K.E.P.O means Knowing Every Particular Object. It's not like what teenanger said about KEPO or "want to know everything including other's privacy. It is like stalking. And the connotation is bad.
Knowing every particular object is someone with so many knowledges. He or she must be dilligent. He or she must like reading newspaper or books, browsing internet, or all of media. But how about someone who always want to become KEPO and she or he will do some "KEPO things" or stalking?
When I am being asked about which I will choose, knowing many things or not knowing things, then I will choose not to know many things. I realise many responsibilities come if we know many things. At least we have to think, the Info we've gotten is save or not, can everybody knows or not, what the influencce for ourselves or other, etc.
For myself, It is not important if I become the last person of an information,there must be reasons, rite? Even myself try to pretend not to know some infos if I think that I am not related to certain info.
Yeah, don't be "too much" person when You have information then you think you will be Important person..
Note to Myself, 8 January 2013
a Friend that I remember
I'm starting to write again with uncertain feeling. the feeling that I felt couple years ago.
I will face my day, not different from before. what makes it different is the number of age that I will face from the same situation couple years ago. I have to be "grown up". the experiences that I've done, that I've received, that I learnt, it develops into "me", right now.
"I will not put you in the social pressure like her. I want to listen your words from your mouth without force"
Suddenly, I think about these words. And like I've thought, I have to put my words and do it like what I've said.
Ahh, as much as I thought, I'll become more confuse about it.
Then I remembered about a friend, an old friend from my past.
How are you now? It is almost 2 years without hearing your condition.
The person that have become a small part of my life, the person that have become friend that always there where I need something to "hold", a person with "different" characteristic.
I never hope something that I will never reach..
I learn many things from that person, and I would like to say "thank you" for the kindness, the time, the humour. Everything you give means alot for me..
Thinking about this friend colours my life, again..
Thank you..
_16 days before "Me"_
16 days can be so fast or even so short to think, to decide, what the best for yourself
and it publish 5 days later
Subscribe to:
Posts (Atom)






