Saturday, March 18, 2017

Susur Goa Aman dan Nyaman bersama Eiger dan Buniayu Adventure & Training

Pertengahan Februari 2017 lalu, saya membaca sebuah pengumuman di instagram Eiger, salah satu brand outdoor Indonesia : akan diadakan kegiatan susur goa. Wah, sepertinya menarik. Saya membaca pengumuman dengan seksama tentang bagaimana cara mendaftar kegiatan tersebut. Lalu pada tanggal dan jam yang ditentukan, saya mengirimkan pesan kepada Cp kegiatan tersebut. Selama 2,5 jam harap-harap cemas, pesan saya berbalas. Yey, alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti kegiatan outdoor tersebut.

Singkat cerita, saya dan 49 orang lainnya berkenalan melalui grup WA yang sengaja dibentuk untuk memudahkan koordinasi sebelum kegiatan berlangsung. Mayoritas dari kami belum saling kenal, dan kami saling memfollow akun instagram masing-masing. Jujur, saya pribadi rada jiper setelah memfollow akun instagram peserta lainnya, karena kebanyakan mereka adalah "petarung" outdoor : Fotografer outdoor, pendaki gunung, pemanjat dinding, travel blogger, outdoor blogger. Ada juga yang bukan "Petarung" outdoor, namun profesional dibidang olahraga, mahasiswa pecinta alam juga banyak. Apalah saya yang cuma pelari pemula yang sudah lama "gantung carrier" dan tidak berkecimpung di area outbound lagi.

Tapi saya tidak patah semangat, malah semakin terpacu. Toh niatnya menuntut ilmu, dan saya berharap bisa belajar juga dari teman-teman peserta lainnya. Singkat cerita menjelang hari H, kami bahkan membentuk beberapa group kecil, agar memudahkan keberangkatan. Saya dan 13 orang yang berasal dari Jabodetabek sepakat berangkat bareng naik kereta dari Bogor menuju Sukabumi, tempat meeting point kami. Seorang dari kami menjadi korlap perjalanan membantu rekan-rekan yang lain untuk memesan tiket dll. Kami bersepakat bertemu di stasiun Bogor jam 7.00.

Hari H : Our Journey is started.


My starting point
 Dari pagi grup Line heboh bener mengabarkan lokasi kami masing-masing. Ya, karena kami berangkat dari stasiun yang berbeda-beda. Untuk mencapai stasiun Bogor jam 7.00 kami harus berangkat pagi-pagi buta, saya sendiri berangkat jam stengah 6 dari stasiun Gondangdia, diantar adik. Sampai stasiun Gondangdia jam 6 dan siap ber-KRL ria. Apadaya, saya terlambat. Butuh 1 jam 15 menit ternyata untuk menuju stasiun Bogor dari Gondangdia. Ternyata beberapa teman yang sudah sampai stasiun Bogor duluan sudah bergerak menuju Stasiun Paledang, maka saya langsung menuju stasiun Paledang. Saya juga sempat bertemu dengan Eka dan Bang Bowo saat menuju stasiun Paledang.

Sampai di Stasiun Paledang, saya akhirnya bertemu langsung dengan orang yang selama ini hanya bersua di grup : Ada Nisa (yang akhirnya menyerah untuk dipanggil Nisa, diganti Sulis), Lydia, Bang Derry, Bang Ade, Bang Faiz, Wildan, Marcel, Jojo, Bang Rivai, Adam, dan haykal. sampai stasiun Sukabumi kami mencarter 2 angkot menuju meeting point di Sekretariat Spelcabumi, di belakang terminal baru sukabumi. Yey, kami adalah rombongan pertama yang sampai lokasi, tapi bukan peserta pertama, karena Kang Dado yang berasal dari Sukabumi sudah sampe lokasi duluan. Kami langsung daftar ulang, menyerahkan persyaratan, mengisi formulir dan letter of concent. Sambil menunggu peserta yang lain, peserta laki-laki menuju masjid terdekat untuk melaksanakan sholat jum'at. Kami juga makan siang di warung makan sekitar lokasi dan melakukan pengecekan barang bawaan terakhir (dibongkar beneran semua bawaan kita dan di ceklist satu per satu).



Tim Jabodetabek sampai di Stasiun Sukabumi

Daftar ulang dan lapor diri







Sekitar jam 2 siang, kami mulai bersiap untuk berangkat. Kami dibagi menjadi beberapa grup dan dipecah menjadi 2 kelompok besar terkait transportasi keberangkatan menuju Buniayu. Kami berangkat naik tronton. Sudah lama ga naik tronton, terakhir naik tronton pas OTFA SD dan SL di Sekolah Alam Indonesia. Medan perjalanan benar-benar luar biasa: nanjak, berliku, dan banyak titik yang berlubang. Jadi kebayang, kan hebohnya didalam tronton? hehehe. Pusing? Mau muntah? Banyak kok, peserta yang merasakan hal tersebut, obatnya ya diusahakan tidur saja.

Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam dan kami tiba di lokasi. Dari pintu gerbang menuju campground, kami berjalan kaki sekitar 200 m. Duh, saya benar-benar teringat OTFA, dimana anak-anak turun dari tronton, kemudian menggendong carrier atau backpack besar mereka menuju lokasi campground. Setelah tiba di campground, kami dibagikan beberapa perlengkapan untuk digunakan dan dijaga selama kegiatan : sepatu boots, wearpack, helm, sarung tangan, kaos kegiatan, slayer, dan beberapa sticker. Lalu kami diminta meletakkan barang-barang didalam tenda dan menuju lapangan untuk memulai upacara pembukaan.

 
Plang Masuk Goa Buniayu
Perkap Peserta

Tenda Peserta
Langsung pasang hammock di tengah-tengah tenda
 
Upacara pembukaan sederhana, ada beberapa sambutan diantaranya dari Pak Fery (CEO BAT-Buniayu Adventure & Training), sambutan dari Pak Cahyo (Ketua HIKESPI-CEO pengelola Goa Jomblang, Jogja), dan dari Kang Galih (Eiger Adventure). Usai pembukaan, kami menikmati sore dengan wedang jahe dan getuk, sambil aklimatisasi tentunya.



Sambutan dari Ketua Hikespi

Sambutan Kang Galih dari Eiger Adventure

Penyalaan Lampu Karbit  oleh Pak Cahyo dan Pak Fery yang diwakili oleh Mbak Shely dari Jogja
Mandathory picture : Foto dengan background :)

Foto setelah menikmati welcome snack and drink
Foto bersama seluruh peserta dan panitia

Kegiatan selanjutnya dimulai selepas maghrib. Kami sholat maghrib-isya, makan malam, dan ada materi pengenalan Goa dan Speleologi yang disampaikan oleh Pak Fery. Saya sendiri asing dengan istilah speleologi, saya taunya ya caving alias menelusuri goa. Tapi ternyata berbeda. Malam itu saya belajar banyak tentang apa itu goa, bahwa mayoritas goa di Indonesia adalah goa kars, apa bedanya caver (sekedar penelusur) atau spelunker (penelusur yang juga mencatat data-data yang ia dapat selama menelusur), peralatan apa saja yang dipakai saat menelusuri goa, biota goa, ornamen goa, dll. Dan saya cuma bisa ber-oo ria karena banyak yang baru saya ketahui saat itu. Lepas materi, kami kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.












Hari Kedua : Penjelajahan Goa Horizontal dan Belajar SRT.



Pagi hari kami dibangunkan pukul 4 pagi (honestly, banyak yang ga bangun, sih). Ql, sholat shubuh, beres-beres, dan jam 6 kami hormat bendera. Selama kegiatan, kami bersepakat bahwa setiap pukul 6 pagi, bendera merah putih akan dikibarkan dan setiap jam 6 sore bendera akan diturunkan, dan kami akan melakukan ceremony hormat bendera pada jam-jam tersebut. Setelah sarapan, kami memulai penjelajahan goa horizontal. Oh iya, ada 2 tipe goa yang akan kami jelajahi selama kegiatan : goa horizontal dan goa vertikal. Sebenarnya ada sekitar 84 goa yang ada di Buniayu yang saling terhubung, namun hanya kurang dari 5 goa yang dijadikan goa wisata dan itupun penelusurannya dibatasi agar habitat dalam goa tetap terjaga. Kami berkesempatan menjelajah 2 buah goa horizontal pagi itu : goa landak (400 m) dan goa "si buta dari goa hantu" (200 m).

Melalui entrance goa yang tidak terlalu besar, namun agak lebar, kami berusaha sedemikian rupa mencari posisi yang terbaik untuk masuk kedalam goa. Baru mau masuk, medan kami sudah penuh dengan lempung yang berarti sangat licin dan harus ekstra hati-hati. Sudah dikaitkan tali dan webbing dibeberapa titik untuk memudahkan pegangan memang, namun hati-hati dan mendengarkan instruksi dari instruktur dan asisten instruktur amat diperlukan. Memasuki zona senja dan zona gelap abadi, kami hanya bergantung pada headlamp yang terikat pada helm kami. Kami saling bantu dan saling jaga agar kami semua aman dan selamat pada penelusuran goa.


Ornamen Goa


Ada yang menarik saat berada didalam zona gelap abadi. Kami semua diminta untuk mematikan seluruh penerangan yang kami miliki dan berkontemplasi. Tidak lama, hanya sekitar 1-2 menit. Saat itu kami membayangkan saudara-saudara kami yang memang diberi anugerah untuk tidak bisa melihat sama sekali, yang berarti mereka selalu berada dalam zona gelap abadi. Ada pula yang membayangkan suasana didalam kubur. Ya, karena segelap itu yang akan kita hadapi didalam kubur. Ya, dalam zona gelap abadi, meski dalam keadaan mata terbuka kita tidak akan bisa melihat apapun, termaksud jika kita menggerakkan tangan kita didepan mata. Dan simulasi zona gelap abadi ini tidak boleh berlangsung terlalu lama, karena mata kita membutuhkan cahaya dan jika terlalu lama maka dikhawatirkan syaraf mata kita akan rusak dan mengalami kebutaan.

Penjelajahan kami di goa horizontal berakhir sekitar pukul 12.00. Selepas sholat dhuhur-ashar dan makan siang, kami masuk pada materi persiapan penjelajahan goa vertikal keesokan harinya. Kami belajar teknik tali singular atau SRT (single rope technic), teknik yang biasa dilakukan dalam penjelajahan goa vertikal. Kami belajar bagaimana caranya naik dan turun menuju dan keluar goa dibantu oleh beberapa alat : ascender, descender, tali, karabiner, seat harnest, dll. Saya belum pernah belajar SRT, pernahnya rapelling (pada saat outbound), maka saya menyimak dan berusaha dengan baik. Banyak diantara peserta yang sudah mahir dan terbiasa dengan teknik SRT ini. Selain belajar teknik SRT, sambil menunggu giliran untuk praktek naik dan turun dengan SRT, kami belajar beberapa simpul : simpul 8, 9 dan 10.
Sambil nunggu giliran, berlatih simpul
 
Yang SRT fokus, yang belajar simpul ga kalah fokus

Usai materi SRT, kami bersiap untuk makan malam, ceremony penurunan bendera, dan sholat maghrib-isya. Agenda malam adalah debrief pasca penelusuran goa horizontal dan api unggun. Masing-masing kelompok menyampaikan apa yang telah mereka pelajari selama di goa. Beberapa peserta juga diminta berbagi pengalaman. Ada Mbak Rimping yang berbagi pengalamannya menelusur goa (beluai sudah menjelajah 32 goa di pulau jawa sejak 2014), Kang Aswi yang bercerita tentang pengalaman perjalannanya yang beliau tuangkan dalam blog perjalanannya. Ada juga Adam yang membuat program zero waste hiking dan tahun ini lepas lebaran akan kembali mendaki 10 gunung. Sebenarnya daerah Buniayu tidak terlalu dingin, karena letaknya tidak terlalu tinggi (sekitar 700 mdpl), namun karena sore lepas belajar SRT sempat hujan, maka api unggun malam itu sangat tepat dalam menghangatkan badan dan suasana. Lepas itu, kami beristirahat untuk menyiapkan diri dihari selanjutnya.

Debrief and sharing session, sebelum api unggun

Hari ketiga: Penjelajahan Goa Vertikal dan Penanaman Bibit Tanaman
Seperti hari sebelumnya, jadwal kami bangun pukul 4. Kali ini lebih banyak yang tidak bangun, hehehe. Mungkin banyak yang kelelahan. Dan panitia pun tidak membangunkan pukul 4 (panitia baru membangunkan sekitar pukul 4.45). Saya sendiri baru bangun, menuju musholla sekitar pukul 4.15 karena menjawab panggilan alam (baru terasa dinginnya setelah diguyur hujan membuat saya harus buang air kecil). Sholat shubuh, membereskan sleeping bag, mengenakan wearpack, sarapan, ceremony hormat bendera, dan bersiap untuk penjelajahan goa vertikal. 
Pengarahan sebelum memulai penelusuran Goa Vertikal

Salah satu peserta "siap dikerek" masuk kedalam goa vertikal
Untuk penjelajahan goa vertikal ini, kami menggunakan wearpack karena medan dalam goa lebih licin dan akan basah karena akan menelusuri via sungai dalam goa. Dan karena jumlah kami yang cukup banyak, kami turun kedalam goa tidak dengan teknik SRT yang kami pelajari, kami masing-masing dikerek untuk mempersingkat waktu. Tidak apa, yang penting sudah belajar teknik SRT. Kami turun sekitar 18 meter menuju goa dan memulai penelusuran dengan mengikuti aliran sungai dalam goa. Kedalaman sungai bervariasi. Pada awalnya hanya sekitar setengah betis, lalu pada beberapa titik ada yang sampai sepinggang saya (tinggi saya sekitar 165 cm, berarti sekitar 1 m). Kami tetap harus berhati-hati karena pijakan kami tertutup oleh air. Ada beberapa titik dimana kami harus ekstra menunduk agar tidak merusak stalaktit dalam goa (dimana buat saya yang berkaki panjang ini sangat suliit, sehingga probabilitas kepala saya terbentur lebih tinggi).
 
Instruktur memberikan informasi mengenai biota dan ornamen goa

Diakhir perjalanan, medannya adalah medan lumpur lempung. Sekali injak, kaki saya bisa terperangkap hampir sebetis. Saya pun beberapa kali merasakan kaki saya sulit untuk ditarik dan melangkah. Sepatu boots yang saya kenakan hampir tertinggal didalam lumpur. Setelah melihat teknik melangkah yang dicontohkan oleh asisten instruktur, saya jadi lebih mudah dalam bergerak di medan lumpur. Caranya? Melangkah menggunakan lutut terlipat (seperti posisi kneeling, namun terus bergerak). Ya, karena dengan luas permukaan yang lebih besar (saat kneeling, permukaan sentuh di medan lumpur menjadi lebih lebar : dari lutut, tulang kering, sampai ujung kaki. Sedangkan kalau berdiri, luas permukaan hanya selebar telapak kaki) dengan gaya berat dari badan kita, maka tekanannya akan lebih tinggi saat kita berjalan normal sambil berdiri. Alhamdulillah ya, ilmu fisikanya kepake, hehehe.

Melihat cahaya setelah beberapa jam didalam goa : Legaaaa :)

Keluar goa vertikal, kami menuju curug (saya lupa nama curugnya) untuk membersihkan badan yang penuh lumpur. Di curug inilah saya teledor dan kehilangan alat bantu melihat saya. Jadi ceritanya, saya sedang menggosok lumpur pada sepatu boots dan wearpack bagian kaki. Karena banyaknya air yang menciprati wajah, saya putuskan untuk melepas kacamata dan meletakkannya pada saku depan wearpack. Namun saya tidak menutup rapat retsleting sakunya sehingga saat saya menunduk, plung, kacamata saya jatuh dan terhanyut dalam derasnya aliran air curug. Ya salaaamm, mau saya sudah meraba-raba dasar curug, tetap saja nihil. Maka saya bergantung pada penglihatan saya yang samar-samar. Sebenarnya minus mata saya tidak besar, hanya minus 2 dan 2,5, namun karena saya hampir selalu menggunakan kacamata (kecuali saat mandi dan tidur, meskipun pernah juga pas mandi pake kacamata), jadi mata saya selalu bergantung pada kacamata. Alhamdulillah kegiatan sudah hampir berakhir, jadi tidak terlalu bermasalah.
 

Yeay, wateeerrrr.. ^^

Lepas membersihkan diri di curug, kami kembali menuju campground untuk mandi, sholat dan packing. kami juga merubuhkan tenda masing-masing dan mengembalikan perlengkapan yang kami pinjam dari panitia. Lalu kami makan siang bersama : makan besar dengan menu favorit : nasi liwet, lalapan, ikan asin, sambel, oncom, tempe tahu goreng yang semuanya disajikan diatas daun pisang. Sedaaappp. Usai makan siang, kami bersiap untuk upacara penutupan, melalukan prosesi penanaman bibit pohon secara sederhana, dan bersiap kembali menuju meeting point sekretariat spelcabumi.



Makan Besar, yumyum
Persiapan Penutupan

Penutupan kegiatan susur goa
Tim Jabodetabek bersama Kang Galih
Sampai sekretariat spelcabumi, hujan turun. Kami semua berteduh sebentar sebelum memutuskan untuk kembali ke daerah masing-masing. Mayoritas peserta datang dari arah Bandung langsung menuju terminal untuk pulang. Teman-teman Jabodetabekbanten? Kami menumpang bermalam di rumah Bu Korlap yang tidak jauh dari lokasi meeting point. Alasannya karena hari itu hari minggu dan sudah hampir maghrib dimana dipastikan perjalanan darat dari sukabumi menuju bogor akan cukup padat dan bisa-bisa kami sampai rumah besok pagi juga. Beberapa dari kami akan pulang dengan kereta terpagi yaitu pukul 5.00 dan kereta pukul 10.00. Saya dan beberapa lainnya memutuskan untuk naik elf jam 2 dini hari dengan harapan sampai di Jakarta masih pagi dan kami bisa kembali beraktivitas rutin. Benar saja, pukul 3.55 kami sudah tiba di stasiun KRL Bogor dan siap "menyambung tidur" diatas KRL menuju domisili kami masing-masing.

Perjalanan hampir 4 hari 3 malam ini merupakan pengalaman baru untuk saya. saya bertemu dengan semua teman baru, belajar ilmu baru dan mendapatkan banyak sekali pelajaran. Terima kasih untuk penitia penyelenggara dari Buniayu Adventure and training, terima kasih juga untuk Eiger Adventure Service and Training karena telah menyelenggarakan kegiatan yang super duper awesome ini, dan terima kasih juga untuk Hikespi yang sudah membagi ilmunya terkait dengan Goa dan Spleleologi. I felt contented after training.


 Let's go under !!!


Nisa Rachma


Note : 

Sebenarnya sudah lama saya ingin menyelesaikan tulisan ini, namun kendalanya banyak sekali ya?? Banyak yang ingin saya tuangkan, tiba-tiba stuck didepan laptop, malas yang seringkali datang, drama korea-jepang yang menggoda untuk lebih dulu ditonton, dll. Alhamdulillah setelah 3 minggu pasca kegiatan, tulisan ini rampung. Manseeeee !!! Semoga bermanfaat :)

Foto-foto saya peroleh dari Fanspage Buniayu Adventure and Training di facebook (monngo di follow), dari kameranya Sulis dan kang Dadan, serta teman-teman grup Susur Goa. Terima kasih semuanya. Silahkan follow Eiger dan BAT untuk mengetahui informasi kegiatan menarik lainnya. 


#susurgoa #naturaladventure #caving #speleologi #buniayucave #eigeradventure

Monday, March 13, 2017

Galih dan Ratna (2017) : Kisah "Romeo and Juliet" Legendaris Indonesia






Kemarin, 10 Maret 2017, alhamdulillah saya sudah menonton salah satu film Indonesia yang berjudul "Galih dan Ratna". Kalau mendengar "Galih dan Ratna", seakan kembali pada masa Rano Karno dan Yesi Gusman saat keduanya membintangi karakter Galih dan Ratna pada masanya. Atau Sinetron Episode pendek dengan judul yang sama yang dibintangi oleh Paundrakarna dan Ratna Galih yang ditayangkan hari minggu malam disalah satu stasiun tivi swasta pada saat saya masih berstatus sebagai pelajar (hehehe, ketahuan ya angkatannya :) ). Ya, Galih dan Ratna adalah Romeo dan Juliet-nya Indonesia, dengan versi berbeda tentunya. 

Saya mengikuti setiap episode Sinetron Galih dan Ratna, namun tidak menonton film yang versinya pertamanya, versi Rano Karno-Yesi Gusman. Betapa "Nisa ABG" langsung jatuh hati pada pemuda sederhana bernama Galih yang mengayuh sepeda ontelnya menuju SMA, serta kagumnya kepada sosok Ratna, anak seorang Bangsawan Yogya yang anggun, santun, dan baik hati. Namun saya tidak akan membahas versi tersebut, kali ini saya akan mengupas tentang film Galih dan Ratna, remaja tahun 2016. Galih yang sederhana dan mempesona diperankan oleh bintang pendatang baru, Refal Hadi. Sedangkan Ratna diperankan oleh bintang baru juga, yaitu Sheryl Sheinafia.

 

Galih adalah seorang pelajar SMA di Bogor yang sehari-hari membantu ibunya yang mempunyai usaha catering untuk membiayai kehidupan keluarga selepas ayahnya meninggal. Selain itu Galih juga menjaga toko musik yang menjual kaset-kaset jadul, maksudnya klasik, peninggalan bapaknya. Ayah Galih mungkin seorang musisi, atau orang yang amat mencintai dunia musik, oleh karena itu ia mendirikan toko "Nada Musik". Namun dijaman sekarang, siapa sih yang masih mendengarkan musik melalui kaset? Mungkin tinggal para supir angkot yang masih memiliki pemutar kaset di angkotnya (bahkan beberapa angkot menggunakan pemutar musik digital, yang tinggal mencolokkan flashdisk yang berisi file musik digital).
 


Adalah Ratna, seorang remaja Jakarta yang terpaksa pindah ke Bogor karena ayahnya harus bekerja dan menetap di luar negeri sehingga harus dititipkan kepada tantenya di Bogor. Awalnya Ratna menolak, ia memilih untuk bisa tetap tinggal di Jakarta. Mungkin, untuk remaja jakarta seperti Ratna, pindah ke sebuah kota kecil bukan ibukota (walaupun Bogor tidak jauh dari Jakarta), harus beradaptasi dan memulai bergaul dengan lingkungan baru adalah suatu hal yang berat.

Hari pertama di sekolah barunya, Ratna bertemu dengan Galih. Bagi Ratna, Galih ini unik, tidak seperti laki-laki lain. Iya, karena Galih adalah murid beasiswa yang pintar, masuk kategori nerd, namun menyita perhatiannya. Dan Galih itu klasik, di tahun 2016, saat musik banyak diputar secara digital melalui mp3 player dan smartphone, Galih masih mendengarkan musik melalui pemutar kaset : walkman. Dan saat semua remaja memiliki sosial media bernama instagram, Galih satu-satunya yang tidak punya instagram. Ia hanya sesekali berkicau melalui twitter.

Hingga kemudian Ratna berkenalan dengan Galih, dan Galih mulai menyambut perasaan Ratna. Kedua remaja yang dilanda asmara itu menjalankan hari-hari sekolahnya dengan penuh suka cita. Ratna bahkan makin betah di Bogor karena Galih. Namun kisah asmara keduanya tak semulus kisah-kisah dongeng. Ada hal-hal yang merintangi hubungan keduanya. Bagaimana Galih dan Ratna menjalankan hubungan percintaan mereka? Bagaimana Galih dan Ratna menjalankan toko "Nada Musik" yang tadinya mau dijual oleh Ibu Galih untuk menopang kehidupan mereka?
 


Udah, nonton aja. Hehehe.

Buat saya, kisah Galih dan Ratna (2017) ini cukup sederhana, namun mengobati rindu saya pada Sosok Galih dan Ratna yang pernah saya tonton sebelumnya. Kalau dulu bersetting di kota Jogjakarta, kali ini mengambil tempat di Bogor. Kalau dulu Orang tua Ratna adalah Bangsawan, kali ini orang tua Ratna adalah pengusaha. Dan saya sangat terobati pada saat scene pertama (untuk surprise, tidak akan saya bocorkan ya, hehehe). Bagaimana remaja saat ini memandang sebuah permasalaan dan cara mereka mengatasi permasalahan adalah salah satu yang saya suka. Saat Ratna memberikan saran bagaimana agar "Nada Musik" bisa menghasilkan pemasukan, dipadu dengan cara Galih me-remake "Nada Musik", buat saya itu adalah hal yang bisa kita pelajari dari generasi sekarang. Ya, gap generasi, suatu hal yang nyata namun pasti, perlu dijembatani dan dipahami bersama, agar kita lebih bijaksana memandang bagaimana generasi remaja sekarang berpikir. Berasa udah tua, ya Nis? :)

Melihat banyak barang-barang generasi 90-an juga mengobati kangen saya. Hayo ngaku, siapa yang dulu doyan membuat kaset-kaset rekaman dan dibuat kompilasi alias mixtape? Saya? Iya, saya juga. Melihat tumpukan kaset di "Nada Musik" dari mulai the Beatles, Vina Panduwinata, Dewa 19, dll membuat mata saya terbuka lebar. Iiihh, kangeeenn.. Yup, Galih dan ratna (2017) ini membuat saya bernostalgia sekaligus menggabungkan dengan sesuatu yang kekinian.

Semakin penasaran? Silahkan datangi jaringan bioskop XXI dan CGV di kota anda. Kalau di Jakarta, seperti beberapa film indonesia, tidak masuk semua bioskop, namun cukup banyak juga yang memutarkan film ini. As usual, cek aja dulu di www.21cineplex.com atau www.cgv.id untuk cek jadwal dan bioskop nya. Atau mengintip official trailernya dulu juga boleh
 

GAC, yang mengisi OST Galih dan Ratna
 
Ratna_Ratna_Galih_Galih

Selamat bernostalgia :)


Nisa Rachma, pengagum Galih dan Ratna.



*All picture are taken from google (except the ticket picture) with keyword : Galih dan Ratna



#GalihdanRatna2017
#GalihdanRatna
#IndonesianMovie
 #FilmIndonesia
#FilmAnakNegeri

Tuesday, January 17, 2017

Dangal : Kisah Pegulat wanita India dan sosok Sang Ayah dibelakangnya

Apa yang terjadi jika seorang pegulat nasional yang amat mencintai negerinya harus berhadapan dengan kenyataan hidup?

 



Pekan lalu, tepatnya kamis, 12 januari 2017 saya menonton sebuah film di bioskop. Saya memilih sebuah film Bollywood, sebuah film yang biasanya saya tidak tertarik untuk menontonnya di bioskop. Dilatarbelakangi sebuah postingan dari mba Ninit Yunita, dan beberapa rekomendasi lainnya dari para pecinta film seperti saya, akhirnya pilihan menonton jatuh kepada sebuah film berjudul "Dangal"yang berarti Gulat.

Diawali dengan sebuah percakapan biasa yang berlanjut dengan nada agak sinis antara Mr. Mahavir Singh Phogat dengan seseorang disebuah kantor biasa yang berakhir pada pertarungan gulat dikantor tersebut dan dimenangkan oleh Mr. Mahavir. Lawannya sempat berkata, "Selamat, anda telah mengalahkan seorang Juara Gulat Provinsi". Dan ditimpali oleh Mr. Mahavir, "Selamat, karena anda telah bertarung dan dikalahkan oleh juara nasional". Ya, Mr. Mahavir adalah seorang atlet gulat, tepatnya juara gulat nasional India yang sudah berhenti. Ia dihadapkan oleh kenyataan hidup bahwa apa yang menjadi passionnya selama ini tidak mampu menghidupi diri dan keluarganya sehingga ia mengundurkan diri dan menjadi pegawai sebuah kantor.

Namun, gulat sudah menjadi darah dagingnya. Ia rutin mendatangi sebuah komunitas gulat di kampungnya, memberi apresiasi dan semangat kepada pegulat-pegulat muda. Ia pun berkata kepada istrinya, bahwa gulat akan ia turunkan kepada anak-anaknya kelak. Namun lagi-lagi takdir berkata lain. Mr. Mahavir dan istrinya dikaruniai 4 orang anak perempuan. saat itu ia merasa bahwa sudah saatnya ia mengubur rapat-rapat impiannya.

Suatu hari saat pulang dari kantor, ia dipanggil oleh istrinya. Ia dikabarkan bahwa 2 orang anak tetangga, laki-kali, babak belur dihajar. Mr. Mahavir mengira itu adalah perbuatan keponakan laki-laki yang tinggal dengan mereka, namun ternyata ia salah. Itu adalah perbuatan kedua putrinya, Geeta dan Babita. Setelah meminta maaf kepada ibu dari anak yang babak belur tersebut, ia bertanya kepada kedua anaknya, "Ceritakan, bagaimana kalian melakukannya". Dari situ, bagai melihat sebuah cahaya dari langit, Mr. Mahavir merasa impiannya akan gulat bisa diperjuangkan. Ia melihat bahwa Geeta dan Babita memiliki bakat gulat.

Ia kemudian berbicara kepada istrinya akan maksudnya untuk melatih gulat kedua putri mereka. Istrinya sanksi, terutama karena mereka perempuan. Namun Mr. Mahavir membuat kesepakatan untuk diberikan kesempatan untuk membuktikan ucapannya, untuk melatih Geeta dan Babita selama setahun dan meminta istrinya untuk bersabar dan tidak berkomentar. Apabila selama setahun ucapannya terbukti salah, maka ia rela untuk benar-benar mengubur rapat-rapat mimpinya akan gulat.

Berhasilkah Mr. Mahavir Singh membuktikan ucapannya dan melatih Geeta dan Babita menjadi pegulat?

Tenang, saya ga akan spoiler banyak-banyak. Film ini sukses mengaduk emosi saya (ternyata bukan cuma film korea yang bisa mempermainkan emosi saya, hehehe). Film buatan Aamiir Khan ini layak diacungi jempol dan direkomendasikan untuk ditonton bersama. Dibagian awal film, saya sukses tertawa, terutama saat Geeta dan Babita latihan gulat pertama kali. Mungkin bahasanya begini, "Gini banget ya, hukuman karena membela saudara yang diolok-olok dan menghukum orang yang mengolok-olok. Ini bapak kita sadis bener ya, sama anak perempuannya?". Asli, saya LOL dibagian ini. Hingga kemudian saya menitikkan air mata (catet ya, cuma menitikkan air mata, ga sampai nangis bombai. Beneraan) ketika Geeta dan Babita disadarkan oleh kawannya, bahwa betapa ayah mereka sangat menyayangi mereka, walaupun dengan cara yang mungkin mereka belum pahami.

Sepanjang film, total 3 kali saya menitikkan air mata. Setelah yang pertama, bagian kedua adalah saat Geeta meminta maaf kepada ayahnya. Saya bisa menangkap betapa sayang Sang Ayah kepada putrinya, yang walaupun putrinya sudah melakukan kesalahan dan sempat membuat kecewa, namun kasih sayang ayah melunturkan segalanya. Dan yang ketiga ya pas bagian akhir, yang ga akan saya kupas lebih dalam.

Saya begitu terpesona dengan rangkaian adegan yang banyak menggambarkan hubungan ayah dengan anaknya. Ayah, yang sekeras apapun ia terhadap anaknya, namun selalu berada sebagai garda terdepan saat anaknya membutuhkan, siap melindungi da menjadi pelatih terbaik bagi sang anak. Abis nonton rasanya saya tuh nyeesss banget, langsung inget bapak di rumah. Ayah saya memang berbeda dengan Mr. Mahavir, tapi sebagai anak perempuannya, saya merasakan besarnya kasih sayang yang diberikan ayah saya dengan cara beliau sendiri. Udah segede gini pun saya tetap putri kecilnya. Emang ga langsung bisa dimengerti maksud ayah saya melakukan sesuatu terhadap saya, yang kemudian setelah saya dewasa, saya paham betapa itu telah mendidik saya, menjadikan saya seperti apa saya sekarang.

Selain sarat makna, Film ini juga kaya dengan nilai kultural budaya. Saya jadi belajar seperti apa perempuan India, bagaimana mereka berpakaian, tentang nilai rambut bagi perempuan India, bagaimana mereka dibesarkan (perempuan india pada umumnya), termaksud soal makan daging ayam. Sebenernya hampir sama dengan Indonesia yang kaya akan budaya. Atau contoh paling dekat buat saya adalah seperti apa perempuan jawa dididik. Saya tidak akan menjeneralisir, tapi saya termaksud perempuan jawa yang dibesarkan dengan cukup moderat, dimana ayah saya memberikan saya kesempatan untuk berbicara dan mengemukakan pendapat, yang kemudian saya sadari, itu agak berbeda dengan beberapa teman saya (orang jawa juga) terutama saat saya berkuliah di Semarang. Dan walaupun begitu, dengan bangga saya mengatakan bahwa saya adalah seorang perempuan Jawa (walopun masih banyak yang perlu saya pelajari tentang kebudayaan Jawa).

Film ini sebenernya udah release tanggal 21 Desember 2016, tapi ga sebooming film-filmnya Shah Rukh Khan. Tapi saya tetep ngefans sama film-filmnya Aamiir Khan yang buat saya berbobot dan layak untuk ditonton dan diambil hikmahnya. Dari 3 idiots, taree zamen paar, sampe film dangal ini, sangat pantas masuk jajaran film berkualitas yang layak tonton.

Kalau di Jakarta, tinggal 1 studio yang menayangkan film Dangal (pun dari kamis kemarin juga tinggal 1 studio, tapi pas saya tonton, ada sekitar 25 orang yang nonton). Silahkan segera datang ke XXI Plasa Senayan, dan selamat menikmati film berkualitas. Oiya, satu lagi, film ini durasinya hampir 3 jam, jadi harus pinter-pinter nyari jadwal yang ga mengganggu waktu sholat. 



Sinopsis dari 21cineplex

Jadwal Dangal hari ini. Ayo nontooonn..

 

So, Selamat menonton yaaa..


Nisa Rachma, penggemar film