Kami terus berjalan hingga pukul 15.30 dimana kami telah sampai di shelter batu lingga. kami memutuskan untuk memasak perbekalan kami yang tersisa (meski masih ada beberapa lembar roti yang tidak kami habiskan, untuk kami makan dimalam harinya) sekaligus sholat Jama' qhoshor. Kemudian hujan turun dengan derasnya. Saya bahkan baru pertama kali sholat dalam hujan yang deras. kemudian kami langsung beranjank, atau kami akan kedinginan.
Subhanalloh hujan yang Alloh memudahkan langkah kami. Seakan dicharge kembali, kami menuruni gunung dengan cepatnya. Derasnya aliran air hujan membuat jalur terasa tidak licin. Hap, hap, hap, kami menuruni gunung dengan semangat "ingin segera sampai bawah sebelum gelap". Dan salah satu hikmah hujan, kami berjalan dengan ritme yang sama, sehingga jarak antar kami dalam rombongan lumayan rapat.
Tapi karena kaki Fahri yang sakit, dan Nunu yang kehilangan kacamatannya membuat kami terpisah dalam rombongan. Dan kami bahkan terpisah menjadi 3 rombongan : rombongan 1 yaitu Luthfi dan Renggo (para alumni), rombongan kedua yaitu aku, pak Luthfi, Pak Roni, dan Ust Sofyan, dan rombongan 3 yaitu Nunu, Pak Wahyu, Fahri dan Pak Dody. Kami memutuskan untuk berjalan meninggalkan rombongan terakhir karena kami ingin mengejar Luthfi dan Renggo, takutnya mereka tersesat. Karena mereka tidak paham jalurnya, mereka berjalan hanya mengikuti jalur yang tersedia.
Namun ternyata fisik kami mulai menurun. Saya pun mulai merasakan nyeri setiap kali melangkah menurun. Padahal kontur menurun adalah suatu keniscayaan dalam perjalanan turun gunung kali ini. Saya cuma bisa beristighfar setiap kali melangkah. Rombongan kami memutuskan untuk terus melangkah, karena kami sudah kedinginan. Ust Sofyan pun sudah merasa kakinya lecet, begitupun Pak Luthfi. Tapi kami terus meneguhkan diri. Bismillahi tawakkaltu 'alallah, Laa Haula walaquwwata illa billah.
Hingga kami berhasil keluar hutan dan mulai memasuki perkebunan warga. Tapi ternyata jarak masih terlalu jauh dari perkampungan warga. Karena sudah tidak tahan, dan kami belum sholat, kami pun memutuskan untuk bermalam, di pinggir perkebunan warga, dengan alas matras, berbalut sleeping bag. Saat itu hari sudah berganti dan waktu menunjukkan pukul 02.00.
Pginya, sekitar pukul 06.00 kami mulai berjalan kembali. Bermalam yang diluar rencana itumembuat badan kami agak fit setelah semalaman berjalan. kami berjalan dengan sisa tenaga yang ada, dengan persediaan air hanya tinggal 600 ml ( sampai tidak tega untuk meminumnya kembali sebelum kami tiba di perkampungan warga).
Kami sempat berbalik arah, karena tidak yakin dengan arah yang semalam kami ambil. Namun akhirnya kami berbalik kembali, berjalan mengambil arah menurun, tanpa kami tau dan yakin apakah jalur yang kami ambil benar atau salah. dan Alhamdulillah kami tidak salah jalur. kami tiba di sebuah warung di Desa Linggar Jati pada pukul 09.00.
Kami pun istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan menuju rumah Pak RT di Linggasana.
Setelah sampai Rumah Pak RT, Hal pertama yang saya lakukan adalah MANDI. Saya sudah tidak tahan untuk segera membersihkan diri. hehhehe..
kemudian kami istirahat seraya menunggu rombongan 3 yang belum sampai. Alhamdulillah Luthfi dan Renggo sampai Linggasana dengan selamat, pada pukul 22.30 semalam. dan ternyata pos resmi pendakian sudah pindah, tidak lagi di Linggar jati tapi pindah ke Linggasana. Pantas saja, dijalur yang rombongan saya lalui, terlihat jarang sekali ada jejak, yang menandakan jalur tersebut jarang dilalui warga.
Banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan Pendakian Gunung Ciremai kali ini. Saya bersyukur diberi kesempatan mentafakuri alam, menyaksikan kebesaran Allah yang Maha Kuasa. Dan yang terasa bagi saya, pesan "Ijtahidu Fauqo mustawal Akhor" atau berusaha diluar batas kemampuan maksimal benar-benar terasa. Bahwa sesungguhnya kita mampu, memacu diri untuk terus berusaha, diluar batas maksimal menurut kita.
_Srengseng, menutup tahun 2011_