Muter-muter malem ini didunia maya membuat salah satu keinginan saya membuncah. Saya sangat ingin bisa mewujudkannya. Tidak sampai ngoyo memang, hanya saja saya berusaha keras untuk bisa mewujudkannya.
Indah bukan?
:)
In the middle of the night, and the date has changed, 21st July 2013
*pics are taken from google
Sunday, July 21, 2013
Tuesday, July 9, 2013
eR I eS A U ..
Sepertinya ada perubahan waktu tidur saya selama liburan ini. Saya seperti bernostalgia pada beberapa tahun yang lalu, dimana hampir tiap malam saya terjaga. Dan tentu saja dengan konsekuensi meletupnya ide didalam kepala saya, yang jika tidak segera saya tuangkan, maka akan menguap begitu saja. Yah, bisa jadi ini cara "meraut pensil" yang sudah lama terbiarkan tumpul.
Akhir-akhir ini saya risau. Bukan, bukan seperti anak-anak sekarang yang galau tanpa alasan (mulai ketahuan perbedaan usianya, hehehehe). Saya merisaukan sesuatu, yang entahlah kapan saya akan tiba masanya. Saya merisaukan "kedewasaan".
Mungkin yang sering berinteraksi dengan saya tau persis siapa saya. Mengutip perkataan seorang rekan, bahwa saya adalah Tipe C yang sangat sanguinis. Meski tak selamanya saya menjadi C, diwaktu-waktu tertentu saya pun menjadi Tipe A, yang pendiam, berpikir, dan tertutup. Tergantung siapa lawan interaksinya.
Saya adalah seorang sanguinis.
Mungkin saya terlihat amat ceria, terbuka, pokoknya mah nothing to loose, lah. Tapi sesungguhnya, jika malam tiba *tsaah, saya memikirkan apa yang saya lakukan seharian. Saya memanggil kembali ingatan saya hari itu, meski saya akui tidak banyak yang bisa saya recall, hanya bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, dan saya amat noticed didalamnya.
Saya berpikir, memikirkan apa yang terjadi.
Saya merasakan perubahan terjadi dalam diri saya. Titik baliknya adalah ketika saya merantau. Saya mendapat banyak pelajaran yang berharga dari merantau. Merantau membuat saya berpikir, merantau membuat saya menemukan diri saya, yang mungkin berbeda dengan yang tampak.
Mungkin saya naif. Tapi saya tidak sedang berpura-pura, apalagi bermuka dua. Saya yakin orang lain pun punya sisi lain dalam dirinya, yang bisa jadi tidak banyak orang lain tau.
Saya beri sebuah contoh agar mudah dimengerti.
Saya mempunyai seorang kawan, saya mengenalnya dari dunia maya (tapi orang ini nyata kok ^^). Saya awalnya tidak kenal, tapi dari tulisannya saya mengenal kawan yang satu ini. Saya tidak pernah berinteraksi secara langsung. Hanya sebatas tau saja. Namun, banyak teman-teman saya yang ternyata juga mengenal kawan ini. Maka secara tidak langsung saya terhubung dengannya. Saat itu saya mengenalnya dengan segala hal yang kurang baik, bagi saya dan kawan saya ini
Kemudian karena satu dan lain hal, saya bertemu dengan kawan ini. Tidak hanya sehari, dua hari, saya bahkan sudah beberapa kali berperjalanan dengannya. Maka saya mulai mengenal lebih kawan saya. Yah, berperjalanan membuat orang mengenal lebih jauh siapa kita. Ada hal yang baru kemudian saya ketahui tentang kawan saya setelah kami 1 perjalanan. Ada sisi yang selama ini kurang saya pahami,kurang saya ketahui dengan baik. Dan sampailah pada 1 kesimpulan dari segala pemikiran panjang tentang kawan saya, bahwa saya kurang mengenalnya.
Proses saya mengenal kawan saya misalnya, bagi saya merupakan sebuah alur kedewasaan bagi diri saya pribadi. saya benar-benar memposisikan diri seperti layaknya orang yang belajar. Yah, saya sedang belajar berproses menuju kedewasaan. Bahkan ketika saya mulai menerima diri saya yang anak tengah dari 3 bersaudara perempuan semua, ya, itu juga proses pendewasaan saya.
Saya menikmati diri saya yang periang, ceria, jarang sekali marah, open minded. Dan saya pun menikmati diri saya yang berpikir, mendengarkan, dan memilih diam. yah, itulah saya.
Malam ini akhirnya saya putuskan untuk menuliskan sebuah kerisauan saya akan kedewasaan. Saya sedang menjelangnya, yang membaca tulisan saya pun bisa jadi sama dengan saya, sedang menjelangnya (atau mungkin beberapa sudah lewat). Proses menuju kedewasaan mungkin sangat panjang dan bisa jadi tidak mudah, namun saya siap. Saya akan menyiapkan diri saya dengan sebaik mungkin, dengan berbagai perbekalan yang selama ini saya peroleh (dari belajar, dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, dari mana saja).
Karena saya ingin proses ini berjalan dengan indah.
In the middle of the night, 9th July 2013 at 00.18
Nisa Rachma
Akhir-akhir ini saya risau. Bukan, bukan seperti anak-anak sekarang yang galau tanpa alasan (mulai ketahuan perbedaan usianya, hehehehe). Saya merisaukan sesuatu, yang entahlah kapan saya akan tiba masanya. Saya merisaukan "kedewasaan".
Mungkin yang sering berinteraksi dengan saya tau persis siapa saya. Mengutip perkataan seorang rekan, bahwa saya adalah Tipe C yang sangat sanguinis. Meski tak selamanya saya menjadi C, diwaktu-waktu tertentu saya pun menjadi Tipe A, yang pendiam, berpikir, dan tertutup. Tergantung siapa lawan interaksinya.
Saya adalah seorang sanguinis.
Mungkin saya terlihat amat ceria, terbuka, pokoknya mah nothing to loose, lah. Tapi sesungguhnya, jika malam tiba *tsaah, saya memikirkan apa yang saya lakukan seharian. Saya memanggil kembali ingatan saya hari itu, meski saya akui tidak banyak yang bisa saya recall, hanya bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, dan saya amat noticed didalamnya.
Saya berpikir, memikirkan apa yang terjadi.
Saya merasakan perubahan terjadi dalam diri saya. Titik baliknya adalah ketika saya merantau. Saya mendapat banyak pelajaran yang berharga dari merantau. Merantau membuat saya berpikir, merantau membuat saya menemukan diri saya, yang mungkin berbeda dengan yang tampak.
Mungkin saya naif. Tapi saya tidak sedang berpura-pura, apalagi bermuka dua. Saya yakin orang lain pun punya sisi lain dalam dirinya, yang bisa jadi tidak banyak orang lain tau.
Saya beri sebuah contoh agar mudah dimengerti.
Saya mempunyai seorang kawan, saya mengenalnya dari dunia maya (tapi orang ini nyata kok ^^). Saya awalnya tidak kenal, tapi dari tulisannya saya mengenal kawan yang satu ini. Saya tidak pernah berinteraksi secara langsung. Hanya sebatas tau saja. Namun, banyak teman-teman saya yang ternyata juga mengenal kawan ini. Maka secara tidak langsung saya terhubung dengannya. Saat itu saya mengenalnya dengan segala hal yang kurang baik, bagi saya dan kawan saya ini
Kemudian karena satu dan lain hal, saya bertemu dengan kawan ini. Tidak hanya sehari, dua hari, saya bahkan sudah beberapa kali berperjalanan dengannya. Maka saya mulai mengenal lebih kawan saya. Yah, berperjalanan membuat orang mengenal lebih jauh siapa kita. Ada hal yang baru kemudian saya ketahui tentang kawan saya setelah kami 1 perjalanan. Ada sisi yang selama ini kurang saya pahami,kurang saya ketahui dengan baik. Dan sampailah pada 1 kesimpulan dari segala pemikiran panjang tentang kawan saya, bahwa saya kurang mengenalnya.
Proses saya mengenal kawan saya misalnya, bagi saya merupakan sebuah alur kedewasaan bagi diri saya pribadi. saya benar-benar memposisikan diri seperti layaknya orang yang belajar. Yah, saya sedang belajar berproses menuju kedewasaan. Bahkan ketika saya mulai menerima diri saya yang anak tengah dari 3 bersaudara perempuan semua, ya, itu juga proses pendewasaan saya.
Saya menikmati diri saya yang periang, ceria, jarang sekali marah, open minded. Dan saya pun menikmati diri saya yang berpikir, mendengarkan, dan memilih diam. yah, itulah saya.
Malam ini akhirnya saya putuskan untuk menuliskan sebuah kerisauan saya akan kedewasaan. Saya sedang menjelangnya, yang membaca tulisan saya pun bisa jadi sama dengan saya, sedang menjelangnya (atau mungkin beberapa sudah lewat). Proses menuju kedewasaan mungkin sangat panjang dan bisa jadi tidak mudah, namun saya siap. Saya akan menyiapkan diri saya dengan sebaik mungkin, dengan berbagai perbekalan yang selama ini saya peroleh (dari belajar, dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, dari mana saja).
Karena saya ingin proses ini berjalan dengan indah.
In the middle of the night, 9th July 2013 at 00.18
Nisa Rachma
Friday, July 5, 2013
Movie Marathon
Hai, hai..
Sudah lama tidak menulis.. ^^
Gimana liburannya ?? seru, kah??
Kali ini Nisa mau cerita How I spend my holiday : Movie Marathon
Sepulangnya dari Pulau Sempu dan bales dendam "ngelurusin" punggung setelah sekitar 37 jam duduk di kereta, Nisa sempat berpikir cara menghabiskan Liburan yang berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya. Dan tercetuslah sebuah ide, gimana klo nonton aja yah, seharian di bioskop. Maka tanggal 2 Juli kemarin, Nisa berencana mengeksekusi rencana Movie Marathon.
Ternyata sesiangan ujan. Allohumma shoyyibannafi'a..
Rencana nonton dr jam 12.15 batal. Tapi bukan berarti batal nontonnya. Nisa tetep mutusin berangkat wat nonton jam 14.05. Nonton apa siy, Nis? Hehehe, kali ini saya aga malu njawabnya.
Saya nonton ......
Refrain.
Hehehehe, saya penasaran dengan film yang dibintangi Afghan Syahreza kali ini. Saya udah nonton trailernya juga siy. Saya, hmm, sejujurnya saya katakan,, hmm,, saya ngefans ma Afghan. Hehehehe, mungkin agak aneh, tapi itu sebenarnya. Saya ngefans sejak pertama kali Afghan "terekam" melalui Wannabe instan recording. Saya ngefans sama genre suaranya, serak-serak tapi merdu. Tipe penyanyi ballad song, tapi range vokalnya lumayan.. Klo dari tampang, hmm, saya bukan tipe yang bisa suka dengan orang karena tampang, dan lagi, saya ga bisa liat orang ganteng cuma dari tampang doang. Mungkin karena Afghan berkacamata kali ya, karena saya juga berkacamata. hahahaha, mulai ngelantur.. xp
Eits, maaf jadi malah ngebahas Afghan. Tapi nyambung ko, karena sedikit banyak, saya ingin mendengar suaranya yang saya yakin pasti akan muncul di film, entah di scene yang mana. Yakin saya, ga mungkin tidak, Afghan akan bernyanyi di filmnya, dan itu terbukti.
Dengan lawan main Maudy Ayunda, yang juga bisa nyanyi, menjadi lawan main yang pas wat Afghan.
Secara umum saya cukup terhibur dengan film Refrain ini. Tapi ada hal yang mengganggu saya. Ternyata saat itu sedang ada nonton bareng Afghan dan Maudy, di bioskop tempat saya nonton, diwaktu yang sama dengan jadwal saya nonton. Dan bisa ditebak, acara Movie marathn saya agak bearntakan diawal, karena para fans yang lebay dan crowded. Sampe-sampe, ditengah-tengah scene tiapa ada adegan Afghan-maudy pasti diteriakin. Asli, merusak Movie marathon sayaaaaa, aaaahhhhh....
Ok, sekarang saya akan tetap fokus menilai film. Saya ulangi, bahwa saya cukup menikmati. Meski saya merasa scenenya kecepetan. Baru Afghannya begini, eh tau-tau pindah ke scene yang lain. Durasi, oh durasi. Tapi saya cukup puas mendengarkan Afhan bernyanyi dan bermain piano. Two tumbs up, bro..
Dan hari itu saya hanya menonton 1 film saja.
Lanjut tanggal 4 Juli, saya tetap berniat melakukan Movie marathon. Saya browsing dan liat baik-baik jadwal film yang mau saya tonton, bioskop mana yang akan saya tuju, waktu-waktu mana yang memungkinkan, dengan tidak mengganggu jadwal sholat tentunya. Maka setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk menonton Monster University jam 12.15, lanjut jam 15.45 nonton Despicable Me 2 3D.
Dan seperti hari pertama Movie Marathon, hujan pun turun dari jam 11 siang, aweett bener. Allohumma Shoyyibannafi'a.
Harus membatalkan rencana? Hmm, saya masih berpikir keras untuk tetap bisa mengeksekusi rencana saya. Maka saya browsing ulang jadwal film yang akan saya tonton, meninjau ulang bioskop yang akan saya tuju, dan hasilnya, saya tetap bisa nonton. Kali ini di Blitzmegaplex Central Park, untuk jadwal Monster University jam 16.00 (dimana waktu sholat ashar saya aman) dan Despicable Me 2 3D jam 18.10 (waktu maghrib-an saya juga aman). Saya juga sudah memikirkan durasi masing-masing film, waktu tempuh keluar bioskop-musholla wat sholat-masuk bioskop lagi.
dan sore itu saya kya peserta Running Man.
Saya berangkat dari rumah jam 14.45 mengendarai kurochan, menggunakan raincoat menuju central park. Sampai blitz saya aga kaget. Saya lupa memperhitungkan waktu mengantri. Ini lagi liburan sekolah, brooo, eh sist maksudnya.. :p
Alhamdulillah saya sudah memegang tiket pukul 15.45. lalu saya menuju musholla (alhamdulillah saya masih punya wudhu) dan menyempatkan diri membeli minum di supermarket, dan duduk santai menikmati film yang pertama, Monster University.
Ternyata film pertama mulainya aga terlambat. Film berdurasi 103menit itu mulainya sempet molong 15 menit. Maka saya benar-benar seperti Running man. Begitu film berakhir, saya sudah capcus menuju musholla dan menunaikan sholat maghrib. Di musholla saya bertemu kakak saya, yang juga akan nonton film Despicable Me 2 3D.
Dan saya langsung bergegas menuju auditorium kedua untuk melanjutkan Movie marathon saya.
Mungkin lain waktu, ketika akan melakukan Movie Marathon lagi, saya harus lebih memperhitungkan lagi waktu yang dibutuhkan, dari mulai durasi, kemungkinan film yang dimulai terlambat, waktu mengantri, waktu membeli cemilan termaksud waktu untuk saya makan (hari ini saya belum makan siang dan mengganjal dengan sebatang coklat dan jelli saja), waktu tempuh keluar bioskop-musholla-masuk bioskop kembali, dan waktu lainnya jika hal-hal tak terduga terjadi.
Seru loh, sensasi berkejaran dengan waktu. Saya begitu menikmatinya..
***
Srengseng, 5 Juli 2013 at 21.15
Nisa Rachma
*ups, ternyata saya lupa nge-publish mpe jam 22.48 >_<
Subscribe to:
Posts (Atom)



