Masalah..
Siapa yang tidak mempunyai masalah? Saya rasa bohong apabila ada orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Bahkan ketika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai masalah, justru ia sedang bermasalah.
Hidup tanpa masalah. Masalah? Ga masalah. Banyak slogan mengunakan kata-kata masalah.
Kemarin saya mengisi dikelas 9, tidak belajar secara formal memang. Saya hanya diminta untuk memoderatori sesi berbagi. 4 orang siswa datang ke sebuah seminar tentang Anger Management, and mostly talk about problem. Dan siang itu karena partner saya tidak masuk, akhirnya kami hanya megadakan sharing. Tetap belajar juga kan?
Hari itu saya tidak banyak bicara. Keempat siswa yang menjadi center of attention. Dan diskusi sederhana pun mengalir dengan mudahnya. Keempat siswa menceritakan apa yang didapat dari seminar tersebut.
Banyak yang saya tangkap dari yang mereka sampaikan, Bahwa masalah merupakan salah satu proses kehidupan. bahwa masalah merupakan sesuatu yang memang harus dihadapi oleh orang yang hidup. Dan masalah hanya perbedaan cara pandang menyikapinya saja. Apa yang menurut kita masalah, belum tentu masalah untuk orang lain, begitu pula sebaliknya.
Saya mennutup diskusi dengan meminta seluruh siswa menuliskan 3 permasahan yang sedang mereka hadapi diselembar kertas tanpa perlu diberi nama. kemudian dikumpulkan dan dilipat. Sehingga saya tidak mengetahui siapa penulis masalah-masalah tersebut. Kemudian saya memberikan 1 lembar lagi untuk mereka tulis. Saya minta menuliskan solusi, kah? Tidak.
Saya meminta mereka menuliskan kekuatan mereka. Apa yang mereka miliki, ada saja pendukung mereka dalam menghadapi masalah.
Karena seringkali kita sibuk dengan sesuatu yang menurut kita masalah. Padahal kita punya kekuatan, pendukung, supporting system untuk menghadapi setiap masalah yang ada.
Ada Allah disetiap permasalahan yang kita hadapi. Ada orang tua, teman, guru, serta orang-orang sekitar kita yang siap membantu kita menghadapi masalah. Ada keyakinan diri bahwa kita mampu menghadapi masalah. Dan lain-lain.
So, Masalah? Ya ga masalah..
^^
Tuesday, 19th February 2013
Nisa Rachma
n.b.: Thanks for my students that had inspired me making this lil' stuff..
Tuesday, February 19, 2013
Thursday, February 14, 2013
Aku dan Sahabatku
Aku ingin bercerita, sebuah cerita yang kudengar dan disampaikan oleh salah seorang guruku.
Ada seorang sahabat, sebut saja bernama Abdulloh. Abdulloh ini belum menikah, dan ia berkeinginan untuk menikah. Bermaksud memenuhi keinginannya, Abdulloh datang kepada sahabatnya, sebut saja bernama Muhammad.
Abdulloh meminta bantuan kepada Muhammad untuk membantunya mewujudkan keinginannya untuk menikah. "Ya, Muhammad sahabatku. Aku ingin menikah. Tapi aku tidak punya uang. Maukah kau membantuku?". Lalu Muhammd menjawab,"Aku akan membantumu. Kembalilah besok".
Keesokan harinya, Abdulloh mendatangi Muhammad. Muhammad menyerahkan sekantung uang. Dan Abdulloh menyelenggarakan pernikahannya.Setelah beberapa lama, Abdulloh mengunjungi rumah Muhammad, sahabatnya. Ini pertama kalinya ia bersilaturahim setelah menikah.
Saat Abdulloh mengunjungi Muhammad dirumahnya, Abdulloh terkejut.
Rumah sahabatnya kosong. Tidak ada Kursi, tidak ada lemari, tidak ada perlengkapan rumahnya. Kosong."Ya, Muhammad sahabatku. Apa yang terjadi dengan rumahmu? mengapa kosong? Dimanakah perlengkapan rumahmu, sahabat?"
Terdiam sesaat, kemuddian Muhammad menjawab," Aku sudah menjualnya, sahabatku. Aku menjualnya untuk membantumu menikah".
***
Kira-kira seperti itu kisahnya. Muhammd rela menjual peralatan rumahnya untuk membantu sahabatnya menikah. Meskipun Muhammad sendiri belum menikah dan juga berkeinginan untuk menikah. Tapi ia memilih dengan kesadarannya untuk mendahulukan sahabatnya.
Ia merasa yakin, bahwa ia masih sanggup berpuasa untuk menahan dirinya. Tapi belum tentu sahabatnya bisa. Ia merasa yakin ia sanggup menahan keinginannya untuk menikah, tapi belum tentu sahabatnya mampu. Maka Ia memilih mendahulukan sahabatnya. laki-laki mulia itu adalah Sayyid Quthb.
Kisah tersebut seperti menamparku keras-keras. Aku sadar, aku belum bisa seperti seorang Sayyid Quthb yang mendahulukan sahabatnya. Aku masih belum apa-apa.
Ketika sahabatku mengalami kesulitan, aku ingin membantunya, meski belum bisa membatu sepenuh Sayyid Quthb membantu sahabatnya.
Aku ingin...
T_T
Subscribe to:
Posts (Atom)
