Thursday, February 14, 2013

Aku dan Sahabatku


Aku ingin bercerita, sebuah cerita yang kudengar dan disampaikan oleh salah seorang guruku.

Ada seorang sahabat, sebut saja bernama Abdulloh. Abdulloh ini belum menikah, dan ia berkeinginan untuk menikah. Bermaksud memenuhi keinginannya, Abdulloh datang kepada sahabatnya, sebut saja bernama Muhammad. 

Abdulloh meminta bantuan kepada Muhammad untuk membantunya mewujudkan keinginannya untuk menikah. "Ya, Muhammad sahabatku. Aku ingin menikah. Tapi aku tidak punya uang. Maukah kau membantuku?". Lalu Muhammd menjawab,"Aku akan membantumu. Kembalilah besok".

Keesokan harinya, Abdulloh mendatangi Muhammad. Muhammad menyerahkan sekantung uang. Dan Abdulloh menyelenggarakan pernikahannya.Setelah beberapa lama, Abdulloh mengunjungi rumah Muhammad, sahabatnya. Ini pertama kalinya ia bersilaturahim setelah menikah. 

Saat Abdulloh mengunjungi Muhammad dirumahnya, Abdulloh terkejut. 

Rumah sahabatnya kosong. Tidak ada Kursi, tidak ada lemari, tidak ada perlengkapan rumahnya. Kosong."Ya, Muhammad sahabatku. Apa yang terjadi dengan rumahmu? mengapa kosong? Dimanakah perlengkapan rumahmu, sahabat?"

Terdiam sesaat, kemuddian Muhammad menjawab," Aku sudah menjualnya, sahabatku. Aku menjualnya untuk membantumu menikah".


***

Kira-kira seperti itu kisahnya. Muhammd rela menjual peralatan rumahnya untuk membantu sahabatnya menikah. Meskipun Muhammad sendiri belum menikah dan juga berkeinginan untuk menikah. Tapi ia memilih dengan kesadarannya untuk mendahulukan sahabatnya. 

Ia merasa yakin, bahwa ia masih sanggup berpuasa untuk menahan dirinya. Tapi belum tentu sahabatnya bisa. Ia merasa yakin ia sanggup menahan keinginannya untuk menikah, tapi belum tentu sahabatnya mampu. Maka Ia memilih mendahulukan sahabatnya. laki-laki mulia itu adalah Sayyid Quthb.

Kisah tersebut seperti menamparku keras-keras. Aku sadar, aku belum bisa seperti seorang Sayyid Quthb yang mendahulukan sahabatnya. Aku  masih belum apa-apa.

Ketika sahabatku mengalami kesulitan, aku ingin membantunya, meski belum bisa membatu sepenuh Sayyid Quthb membantu sahabatnya.

Aku ingin...
T_T

No comments:

Post a Comment