Monday, January 25, 2016

[Movie Review] Ketika Mas Gagah Pergi

Siapa yang sudah menunggu film "Ketika Mas Gagah Pergi" dilayar lebar? Saya salah satunya. Dan penantian saya terbayarkan, karena akhirnya saya bisa melihat visualisasi novel yang saya baca semasa saya kuliah (sekitar tahun 2005). Yuk kita review sedikit, film "Ketika Mas Gagah Pergi".




Cerita diawali sebuah narasi monolog yang cukup panjang dari seorang anak perempuan bernama Gita Ayu Pratiwi. Dalam narasinya, Gita bercerita tentang kakak laki-laki satu-satunya, orang yang selalu melindungi Gita, orang yang selalu menemani Gita. Namanya Gagah Perwira Pratama. Tergambar pula adegan-adegan kedekatan Gita dengan Mas Gagah. Ya, hubungan adik-kakak ini memang sangat karib. Hingga sang ayah meninggal, Mas Gagah menjadi sosok yang benar-benar bisa diandalkan. Ia menjadi sosok laki-laki yang bertanggung jawab untuk Mama dan adiknya.

Kaya apa sih, Mas Gagah itu?

Secara fisik, Mas Gagah tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, seperti namanya, tampan, tinggi, cukup ideal. Ia bahkan bergabung dalam suatu Agency Model dan sering berjalan di pergelaran busana memperagakan busana-busana dari perancang terkenal. Selain itu, Mas Gagah merupakan sosok yang baik, mudah bergaul, ramah, dan asik. Teman-teman Mas Gagah beragam, dari mulai yang ganteng-cantik layaknya model, anak-anak gaul teman kampusnya, hingga anak-anak Rohis yang biasa "mangkal" di musholla kampus. Orangnya ramaaahhh sekali, buktinya teman-teman Gita suka "nongki-nongki canci" bersama Mas Gagah dan Gita. Supel dan asik diajak bergaul dimana aja.

Kalau Gita, seperti apa?

Si Bungsu merupakan adik kesayangan Mas Gagah. Aslinya cantik, namun gayanya cukup tomboy. Ia bahkan memangkas rambutnya menjadi sangat pendek seperti anak laki-laki (sampai sempat dipanggil "Gito" oleh Mas gagah). Style ala Gita : Celana panjang (seringnya sih celana jeans) dengan kaos dan kemeja diluarnya, tak lupa sebuah topi yang dipakai terbalik (bagian depan berada dibelakang). Penampilan Gita jauh dari kata feminim. Bahkan satu-satunya rok yang ia punya adalah rok seragam sekolahnya. Walau begitu Gita merupakan sosok yang ramah. Ia bergaul dengan siapa saja. Kalau di sekolah, Gita sering terlihat bersama sahabatnya yang bernama Tika (Tika ini feminim banget, loh, berbeda dengan Gita).

Suatu hari Mas Gagah pergi ke Ternate untuk menyelesaikan tugas penelitiannya selama 1-2 bulan. Waktu yang lama untuk Gita dan Mas Gagah berpisah. Setengah mati Gita merayu Mas Gagah agar mengurungkan rencananya pergi ke Ternate, atau meminta Mas gagah untuk mengajaknya serta. Namun dengan berat hati Gita akhirnya merelakan kepergian kakaknya sementara.

Setelah 1-2 bulan, Mas Gagah pulang. Ada yang berbeda dengan Mas Gagah sekarang. Ada apa dengan Mas Gagah?

Penampilan Mas Gagah berubah drastis! Mas Gagah lebih sering menggunakan baju koko ataupun kemeja dibandingkan baju-baju gaul dan stylish yang biasa dipakainya. Selain itu, Mas Gagah menumbuhkan jenggotnya. Buat Gita, sosok Mas Gagah sekarang berbeda dengan kakaknya yang biasanya. 

Selera musik Mas Gagah juga berubah. Kali ini ia lebih menikmati bacaan Al Qur'an (murotal), lagu-lagu berbahasa Arab ataupun nasyid, sebuah aliran musik baru buat Gita. Kata Mas Gagah, "..Mending dengerin ini Git. Selain menghibur juga bermanfaat, mengingatkan kita kepada Allah". 

Dan perubahan drastis lainnya menurut Gita adalah sekarang Mas Gagah sudah tidak mau bersalaman dengan perempuan lagi. Iih, sombong sekali Mas Gagah sekarang. Kalau ada perempuan yang mengajak bicara seringnya nunduk, terus waktu diajak salaman malah narik tangannya dan bersalaman tanpa bersentuhan.

Aktivitas mas Gagah juga banyak berubah. "Nongki-nongki canci" sudah ditinggalkan, berganti dengan banyak menghabiskan waktu di musholla, berkegiatan yang bermanfaat (lewat bakti sosial, diskusi, dll), bahkan Mas Gagah bersama beberapa orang mantan preman dibilangan utara Jakarta membuat sebuah "Rumah Cinta", sebuah taman bacaan dan tempat anak-anak sekitar melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Mama Mas Gagah awalnya juga merasakan perubahan Mas Gagah sebagai perubahan yang kurang baik. Semenjak anak laki-lakinya pulang dari Ternate, di rumah sering terjadi pertengkaran antara Gita dengan Gagah. Gita yang sering ngambek dan marah dengan perubahan diri Gagah, dan Gagah yang belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hingga suatu hari, Gagah mengajak Mama ke "Rumah Cinta" dan hal ini membuat mama tersentuh. Sebagai wanita karier yang berjuang membesarkan kedua buah hatinya sendiri semenjak ditinggal sang suami, ia mulai bisa memahami nilai kebaikan dan kebenaran yang selama ini dipegang teguh oleh putra satu-satunya. Mama merasa terketuk hatinya. 

Kembali ke Gita, adik manis kesayangan Mas Gagah.

Ditengah kegalauannya akan perubahan yang terjadi pada kakaknya, Gita sering secara tidak sengaja bertemu dengan sosok laki-laki misterius ditengah perjalanan. Kadang di bis kopaja, kadang di transjakarta. Laki-laki ini aneh, kerjaannya di bis adalah menyampaikan ceramah, kemudian turun tanpa meminta imbalan dari penumpang yang ada di angkutan umum tersebut. Aneh, kan? Dan orang ini bicaranya seperti Mas Gagah sekarang.

Dan pernah suatu kali saat Gita bertemu dengan "Mas berbaju kotak-kotak" (karena laki-laki ini selalu Gita temui dalam balutan kemeja kotak-kotak) di transjakarta sedang menyampaikan ceramah. Lalu tiba-tiba tanpa Gita sadari, handphone Gita berpindah tangan. "Balikin handphonenya!", kata "Mas berbaju kotak-kotak" kepada laki-laki disebelah Gita. Sontak ramailah suasana didalam transjakarta. Pencopet handphone Gita sempat mengancam dan melakukan tidakan perlawanan, namum "Mas berbaju kotak-kotak" berhasil melumpuhkan perlawanannya. Ia bahkan menjaga agar si pencopet tidak dihakimi penumpang didalam bis. Alhamdulillah handphone Gita kembali.

Sejak itu, Gita tidak lagi sekeras awal pada saat "Mas berbaju kotak-kotak" menyampaikan ceramah di angkutan umum. Gita ikut mendengarkan. Dan pada suatu kesempatan, Gita bahkan mengucap terima kasih karena sudah menolongnya di kejadian pencopetan beberapa hari yang lalu. Dan ia juga sempat bertanya nama "Mas berbaju kotak-kotak". Mas "Fiisabilillah", begitu yang Gita dengar.

Film Ketika Mas Gagah Pergi merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel kumpulan cerpen Helvy Tiana Rosa pada tahun 1997. Saya sendiri membacanya sekitar tahun 2005 (dulu mah buku-buku bunda Helvy jauh dari katalog bacaan saya, hehehe). Agak berbeda memang, apa yang terjadi di film dengan yang terdapat di buku. Terdapat pengembangan-pengembangan cerita di film, namun tidak merubah dan menghilangkan esensi nilai cerita dari buku. Tapi, lagi-lagi saya katakan, saya tidak akan membandingkan suatu karya literasi dan audio visual meski karya film diangkat dari sebuah buku. It is not apple-to-apple. 




Namun saya tetap menikmati film ini. Bayangan saya akan sosok Gita, Mas Gagah, Mas berbaju kotak-kotak cukup tergambar di film ini. 4 bintang utama di film ini merupakan bintang baru dijajaran pemain layar lebar, namun kualitas acting mereka patut diacungi jempol (untuk tokoh 1 lagi, yaitu tokoh mbak Nadia yang belum muncul di film ini, in syaa Allah akan ada di sesi lanjutan film ini. Namun kalau penasaran, bisa liat actingnya di official trailer KMGP). Dan saya paling terkesan dengan sosok Gita. Gita di film benar-benar mengeluarkan imaginasi saya akan sosok Gita yang ada di buku. Saya jadi tertawa sendiri mengingat bagaimana peran Gita dimainkan difilm (itu template wajah Gita emang aslinya merengut gitu ya? soalnya tiap kali ngambek template wajah itu selalu keluar : ekspresif, dan penuh emosi).

Film ini kaya nilai-nilai. Betapa Mas Gagah mengajarkan kita bahwa Islam itu indah, Islam itu damai. Banyak dialog-dialog penuh makna dan sangat menginspirasi kita untuk bisa menjadi "Agen Muslim" yang baik (mengutip dari salah satu film Indonesia favorit saya karya Hanum Rais). Salah satu quote yang saya sukai dari film ini, "Suatu kebaikan, mungkin belum bisa kita pahami. Namun kita bisa mencoba untuk menghargainya".

Ditengah kondisi Indonesia yang penuh dengan hal-hal yang tidak kita harapkan (korupsi, kejadian Bom di Tamrin, aliran-aliran sesat, dll), film ini layaknya sebuah oase di padang pasir, yang menyejukkan dan memberikan suasana segar. Sosok Gagah-Gagah lainnya diharapkan muncul ditengah masyarakat, memberikan inspirasi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan dikehidupan sehari-hari.

Masih penasaran dengan film "Ketika Mas Gagah Pergi"?

Mungkin review saya akan film "ketika Mas gagah Pergi" ini tidak bisa memuaskan rasa penasaran pembaca. Segera datangi bioskop-bioskop di kotamu dan ajak sebanyak-banyaknya orang untuk bisa bersama-sama tersinspirasi dari film ini.

Karena Islam itu Indah.
Karena Indonesia itu Gagah.





hiraukan gambar saya yg posisinya miring ini yaaa.. :)


p.s : Saya bocorkan sedikit ya, Film ini akan ada lanjutannya. Jadi tetap bersabar menunggu lanjutan film ini ya. Mungkin judulnya seperti yang dibuku " Ketika Mas Gagah Pergi... dan Kembali"


Srengseng, Nisa's Ghurfatun Naum, 25 january 2016 at 14:40




Oiya, Review ini juga saya ikutkan pada lomba Review Film Ketika Mas Gagah Pergi yang diadain sama FLP. Info lebih lanjut bisa lihat di www.kmgpthemovie.com atau www.flp.or.id

Friday, January 8, 2016

[Movie Time] Tausiyah Cinta

Hello..

Still with Nisa, here. So, one of my resolutions in 2016 is able to write something on blog like I did in Multiply continually, in English if possible. Anything. Everything, especially for something to be memorable.

So, I would like to write about what I did this afternoon : Watching Tausiyah Cinta.



Here is the synopsis  that I got from cgvblitz.com

"Kisah diawali dari kebencian Lefan (Rendy Herpy) pada ayahnya menguak sebuah perjalanan batinnya yang kering. Jiwanya kosong. Ia harus kehilangan ibu yang terdzolimi oleh ayahnya sendiri. Ia berjuang membuktikan pada ayahnya bagaimana caranya memuliakan perempuan. Lefan mengalami katarsis (berkali-kali merasakan pergulatan batin), layaknya seorang yang kehausan di padang pasir. Ia tahu bahwa ia haus, tetapi terus menemui jalan buntu untuk mencari jalan yang lebih baik.Sampai akhirnya Ia bertemu seorang pemuda yang teduh bernama Azka (Hamas Syahid Izzuddin), sosok arsitek sholeh, tampan, dan hafidz Qur'an. Azka adalah sosok yang nyaris sempurna. Lefan menemukan kharisma dan apa yang tidak ia dapatkan dari sosok ayahnya. Lefan kenal dengan Azka dalam satu project . Persahabatan mereka dimulai. Lefan dan Azka sama-sama dibesarkan dalam keluarga islam yang taat namun Lefan sungguh berbanding terbalik dengan Azka. Lefan terus mencari jawaban pergulatan-pergulatan batin yang dialaminya kepada Azka. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari Lefan terus menyerang Azka satu demi satu. Project di kantor mempertemukan dua pemuda tampan ini dengan Rein (Ressa Rere), gadis cantik yang juga hafal Qur'an, senang memanah dan lincah membuat gambar siluet. Rein adalah mahasiswi Teknik Lingkungan tingkat akhir yang sedang merampungkan skripsinya. Persahabatan Azka dan Lefan makin sinergis. Sesuatu hal terjadi. Lefan merasakan konflik batin , ia kehilangan. Lefan mendapatkan sesuatu pada diri Rein yang tidak ada pada diri kakaknya, Elfa (Hidayatur Rahmi). Ternyata, ada sosok sholehah yang membuat hati Lefan merasakan sesuatu yang menyentuh. Ada sebuah keputusan yang tidak wajar yang membuat Lefan makin terpukul. Keputusan apakah itu?"

And this is from 21cineplex.com

"Dendam Lefan (Rendy Herpy) atas kematian sang ibunda kian membuncah dan mengiringi langkahnya untuk berjuang meraih kesuksesan tanpa bantuan sang ayah. Kegigihannya menjadikan Lefan sebagai konseptor bisnis yang sukses dan terkenal di Indonesia. Namun, kesuksesannya yang telah diraih tidak meredam kegelisahan hati Lefan.


Hingga ia bertemu dengan seorang arsitek tampan yang juga hafidz Qur’an. Azka (Hamas Syahid Izuddin) adalah jawaban dari kegelisahan yang selama ini mengendap di hati Lefan. Menurutnya, Azka adalah sosok teladan yang tidak pernah ia temukan pada ayahnya.

Persahabatan yang dijalin dua sosok pemuda itu dibumbui dengan permasalahan hidup yang begitu mendebarkan. Hingga kehadiran seorang gadis cantik yang juga hafal Qur’an, Rein (Ressa Rere).

Ada getaran yang dirasakan Lefan dengan kehadiran Rein. Baginya, Rein adalah jawaban tentang seorang perempuan yang didambanya. Namun.. mengapa Lefan justru menitikan air mata dibalik jawaban yang Rein berikan.

Hingga tersyair perasaan dan tangisan Lefan dalam sebuah puisi. Perasaan ini merupakan bagian dari proses ikhtiar agar selalu dekat dengan-Nya."



Different version but both synopsis are truly describe the movie.

Well there are some reasons why I watched this movie (according to Bedasinema, the production house official Instagram . And I support a lot ..


"1. Tidak ada adegan boncengan dengan bukan mahram. [there's no woman-man (non mahrom) scene in the vehicle]
2. Tidak ada adegan bersentuhan dengan lawan jenis. [there's no woman-man (non mahrom) touching scene]
3. Tidak ada adegan khalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram). [there's no khalwat scene (woman-man, non mahrom, just two of them in the same frame]
4. Banyak lantunan ayat suci Al Quran [you can read and listen to some verses of Qur'an in some scenes]
5. Soundtrack-nya adalah nasyid/musik positif. [ Its sountract is good-positive music]
6. Semua pemain muslimahnya berhijab [all of women in this movies are wearing hijab]
7. Bertebaran kalimat inspiratif di tiap adegannya [numerous inspiring sentences or quotes in every scene]
8. Banyak hikmah berserakan di film ini [ numerous lesson learn (pearls of life)]
9. Obat galau bagi para jomblo yang ingin tersadarkan akan hakikat jodohnya [you'll understand the concept of soulmate]
10. Berisi ajakan untuk semakin menempatkan cinta kepada Allah SWT sebagai cinta tertinggi yang tak terbandingi [this movie persuades us to put the most priority of love is loving Allah, and everything goes well after that]"







Good concept, very Islamic, and it answers some of my questions about life.

Well, as usual, I was late to come to the cinema, it was 15 minutes late. So I did not know the beginning of the movie. Lefan's sister was died when I sit on my seat :)

I feel terrible with myself after watching the movie. Most of cast memorize Al Qur'an very good (a lot of verses, wow). I love hearing the verses of Qur'an being sounded on screen beautifully. I even cried. Some dialogues hit me trough my heart (seriously). I feel ashamed for not being a grateful person with all the kindness that Allah gives to me until now.

And the funny thing is honestly I do not enjoy watching the close up of the actors (Ikhwan mameenn, hahaha). So I did looked down everytime the actor (the men) was being closed up. And that's why I prefer watching some hansome actors from Hollywood (because there's no "that feeling). I know it sounds ridiculous. :p

Curious about the movie ? You can see the official trailer of Tausiyah Cinta here

And you know what??
Tomorrow is the last trial day of #filmTausiyahCinta in the cinema. If the responds are good, it means that the movie will air largely in many cinemas (not like now, only several cinemas, hiks). So, please come to the cinema.. Come with your family, your friends, your relatives. Let the world know one of our Islamic Inspiring Movies (Hearing the verses of Qur'an sounds in the cinema is rarely happened, right?)

Here are some cinemas that airs #filmTausiyahCinta :

Cinema 21 / XXI :

1. Jakarta – XXI Blok M Square
2. Bogor – 21 BTM
3. Tangerang – XXI Tangcity
4. Bekasi – XXI Mega Bekasi
5. Depok – 21 Detos
6. Bandung – XXI Ciwalk
7. Makassar – TSM XXI Makassar
8. Medan – XXI Centre Point
9. Jogjakarta – XXI Jogja City Mall
10. Surabaya – 21 Cito

Cinema CGV BLITZ :
1. Blitz Bekasi Cyber Park (BCP)

2. Blitz Festive Walk, Karawang
3. Blitz Miko Mall Bandung
4. Blitz Balikpapan Plaza

CINEMAXX :

1. Cinemaxx Mall Icon Palembang
2. Cinemaxx Orange Country Cikarang



Salam,
Nisa Rachma


@Ghurfatun naum, 22.23