Tuesday, December 20, 2016

Mari lari bersama NRC Jakarta

Halo, hallooo..

Kembali menulis dipenghujung tahun 2016. Agak malu memang, karena sepanjang tahun ini saya hanya menulis tak lebih dari jumlah jari dalam satu tangan. Entah, demotivasi sekali rasanyaaa.. Saya merasa sangat tidak produktif, hiks. Banyak yang terjadi sepanjang tahun ini membuat saya berkontemplasi. Ok, cukup! Bukan dipostingan ini saya akan berkontemplasi, tapi saya akan menceritakan kegiatan produktif yang saya lakukan selama 3 bulan kebelakang, yaitu L A R I. Yup, alhamdulillah saya melakukan kegiatan yang produktif, hohoho..

Sebenernya saya bukan orang yang menyukai olahraga, saya tidak atletis sama sekali. Dan karena ketidak-atletis-an tersebut, saya tidak cakap dalam berolahraga. Olahraga yang saya bisa lakukan hanya dua, bersepeda dan berlari, tapi tidak dengan serius. Maksudnya tidak secara profesional, gitu. Saya melakukannya sebagai kesenangan atau cara menghabiskan waktu dan mendekatkan diri kepada bapak saya (bapak fans berat bersepeda #gariskeras ). Dan selepas kuliah saya melakukan kedua olahraga tersebut juga tidak secara rutin. Saya mulai tidak bersepeda dan hanya berlari, berlari dalam arti sebenarnya, bukan lari dari kenyataan. Tapi tidak mengelak kok, karena ada kalanya saya berlari karena "lari dari kenyataan". Hehehe.

Biasanya saya berlari di GBK, atau kadang-kadang di CFD. Tapi saya kurang suka di CFD, karena terlalu ramai. Saya tidak bisa berlari. Boro-boro lari, berjalan saya suliittt.. Selain itu jadwal ngaji saya bentrok dengan jadwal CFD. Dan ditambah lagi, CFD itu godaannya besaaarrr.. 
  1. Pertama, beratnya menuju CFD pagi-pagi. Ngacung deh, yang sependapat dengan saya. Selimut itu lebih menggoda di pagi hari, ya nggak? 
  2. Kedua, di CFD itu yang jualan banyak, dari mulai street food yang ga sehat namun menggoda, sayuran dan buah-buahan segar, dan segala pernak-pernik lainnya. Saya siy agak jarang tergoda dengan makanan yang baunya luar biasa mengundang selera, tapi saya susah menghindari diri pulang CFD mampir ke pasar beli jajanan pasar tradisional atau lontong sayur padang, atau buah segar. Seringkali ga imbang, antara kalori yang terbakar dengan kalori yang masuk pasca lari. Hehehe.

Kalau lari di GBK biasanya saya jum'at malam. Pas kan, besoknya libur. Apalagi sejak ga di Sekolah Alam, gerak saya jadi menurun sementara kebutuhan geraknya cukup tinggi. Kinestetik person kayak saya yang hobinya tuing-tuing kalo ga disalurin bisa ngerecokin yang lain. Jadi sesempatnya saya usahakan untuk lari, walopun sendiri. Tenang, sebenernya ga sendiri kok, karena disana rameeee.. Biasanya saya 3-4 putaran ring dalam GBK. Putaran pertama saya lari ditiap 2 pintu, dilanjut 1 pintu jalan kaki. Putaran kedua dan ketiga 1 pintu lari 1 pintu jalan kaki, dan putaran terakhir saya full jalan kaki. Total kira-kira 35-45 menit. Habis itu pulang, ga pake makan malam macem-macem meski bakmi ayam DKI manggil-manggil. :D

Nah, sejak GBK direnovasi untuk persiapan Asian Games 2018, banyak akses ditutup. Saya jadi bingung dan galau antara mau lanjut lari atau enggak. Akhirnya saya menyambut ajakan kakak saya untuk lari bareng NRC (Nike Running Club) Jakarta tiap kamis malam. Sebenarnya udah lama banget kakak saya nawarin saya untuk ikutan, tapi saya tolak. Pertama, karena saya ga pake sepatu atau outfit brand tersebut. Kedua, saya kan larinya ga serius-serius amat, cuma have fun doang, ya ga pede lah. Apalagi katanya ada coach-nya segala. Kata kakak saya, "join aja, banyak temennya kok". Jadilah saya meregistrasikan diri via Apps untuk memesan tempat (sabar, bagian ini akan saya jelaskan).

Pertama kali, saya join di Pace 8. Jadi larinya dibagi-bagi pace-nya, berdasarkan kemampuan kita berlari. Pace itu ukuran kecepatan lari kita. Pace 8 berarti dalam jarak 1 km kecepatan rata-rata berlari kita sekitar 8 menit. Nah, ada beberapa pace dilatihan kamis malam : 8, 7, 6, 5.30, 5, dan 4.30 dimana dimasing-masing pace ada pacer-nya atau asisten coach yang akan membantu mengukur dan menjaga kecepatan berlari kita. Selain itu para pacer kece tersebut juga akan memotivasi kita untuk terus berlari, melawan pikiran-pikiran kita yang selalu ingin menyerah dengan alasan lelah. Tsaah, bahasanyaaa :D


Coach Rustaman lagi ngasih pengarahan sebelum lari
Larinya berkelompok, jadi bisa saling menyemangati
Karena waktu pertama join pas lagi menjelang Jakarta Marathon 2016, jadi ada banyak latihan yang dilakukan sebelum lari, yang tujuannya untuk menguatkan fisik kita saat berlari. Dimulai dari pemanasan, running ABC (Agility, Ballance, and Coordination), ditambah latihan kaya halang rintang gitu pake bridge, cone, dll. Abis itu baru mulai lari sekitar 3-5 km di pace-nya masing-masing. Jujur aja, belum lari saya udah capek duluan, Hahaha. Tapi semua orang semangat, masak saya malah kendor? Jadi saya tetap berusaha semangat, whatever happen. Dan hasilnya, saya lari dengan rada engap dan sempet berjalan sekali ditengah-tengah lari. Abis itu saya langsung pasang target, dilari selanjutnya saya ga boleh jalan sama sekali, walopun rasanya udah engap banget.

Salah satu bagian Running ABC (Pacer yang nyontohin mantap, kaya terbang)

Latihan pake bridge

Pendinginan, pas dibagian yang saya merasa sulit : SPLIT !

Pendinginan : pokoknya I'll try my best, lah :D
Selesai berlari, saya dan para pelari disambut dengan pisang cavendish, air mineral dan minuman isotonik, tinggal pilih mau yang mana. Dan banyak  juga yang menjadikan ini sebagai salah satu motivasi untuk semangat berlari, kayak saya. Hehehe. Setelah itu kita pendinginan dan berkumpul untuk evaluasi serta mendengarkan saran dari para pacer dan coach, biar kita larinya bener. Malam itu saya sadar, bahwa lari itu ada caranya, ada tekniknya, ga asal lari. Kalau larinya benar, resiko cedera makin kecil dan kita jadi sehat. Noted, coach!! Kemudian kita berfoto bersama. Ini juga yang menyenangkan. Lari di NRC Jakarta, udah dimotivasi biar terus lari, disiapin pisang dan minum, diajarin cara lari yang bener, dan lepas lari, 1-3 hari setelahnya kita akan dikirimin link dropbox foto-foto kece kita saat berlari oleh para fotografer profesionalnya Nike. Yup, karena pas lari kita difoto, tapi ga perlu deh gaya-gaya narsis pas lagi lari, karena pasti foto narsis kita ga masuk seleksi foto yang akan dikirim ke dropbox. Jadi makin semangat larinya, kaannn?? :D

Foto dengan background "serasa bukan di Jakarta"

After running pose

Pas lagi Hollowin Run

Pertama kali join pace 6 (dan belum pernah join pace 6 lagi)

Tertarik mau ikutan?

Gampang, caranya kita download dulu Apps-nya di playstore atau Appstore. Abis itu, cari bagian club, masukin kota "Jakarta". Terus cari event. Nah, nanti akan ada jadwal latihan NRC Jakarta. Biasanya ada 2 event, kamis dan minggu. Pas kamis malam namanya "Ready Set Go Run" jam 19.04 teng di Nike store F(x) dan pas minggu pagi namanya "Home Run" jam 06.04 teng di Taman Menteng. Langsung deh, reserve spot kita biar bisa join. Dateng sebelum waktu-waktu tersebut dan langsung Check in. Dan kalau ternyata ada agenda sehingga terpaksa kita batal latihan, jangan lupa cancel spot, karena banyak yang mau ikutan latihan juga, yang waiting list kan jadi naik posisinya. Dan yang penting, Jangan TELAT!!. Saya pernah tuh dateng telat jadi akhirnya ga bisa ikutan lari. Sistemnya langsung nge-lock secara otomatis dan kita ga bisa check in lagi.



Ga punya sepatu atau outfit dengan brand tersebut?
 
No probs, dateng aja. Pertama kali join saya pake sepatu dengan logo cheetah loncat, dan qodarullohnya ga lama kemudian ada sale jadi kebeli deh (walopun abis itu puasa, ngencengin ikat pinggang ga jajan dan ga dateng ke "craft" fair). Kalo emang rejeki, pasti kebeli ko, mahal murah kan relatif, tergantung prioritas kita aja sih. Dan saya ga bermaksud mengendorse atau jualan produk brand tersebut yaa... Saya cuma mau ngenalin suatu wadah produktif tempat saya beraktivitas akhir-akhir ini. Sebenernya banyak juga club ataupun komunitas lari lainnya, nah NRC salah satunya. Ndilalahnya, running club ini dibawah salah satu brand olahraga. Gituuu..

Yuk, mari lari bareng NRC Jakarta.
Tetap sehat, tetap semangat. Demi sehat, demi body seindah Kendall Jenner, Gigy Hadid, dan Dian Sastro #apasih :D

Salam Olahraga,

dari pelari "kemarin sore", 
Nisa Rachma

#NRCJKT #UnlimitedJkt #unlimitedme #unlimitedjakarta #bukanlaridarikenyataan #amateurrunner #beginnerrunner #officerunner #thursdaynightrun #readysetgorun

Tuesday, December 6, 2016

[Movie Review] Bulan Terbelah di Langit Amerika 2


"Apakah Muslim Penemu Amerika?"

Tagline dalam bentuk kalimat tanya diatas menjadi tagline sebuah film yang akan tayang di bioskop pada tanggal 8 Desember 2016 mendatang, "Bulan Terbelah di Langit Amerika 2". Alhamdulillah saya berkesempatan nonton premier film tersebut sabtu kemarin, 3 Desember 2016 bareng teman-teman Indonesia Hijab Blogger (Thanks a bunch for silaturahim and the ticket yaa ^^). Pada saat yang bersamaan, sebenarnya saya juga punya undangan untuk menghadiri reuni akbar Undip, kampus saya tercinta di Ecopark, Ancol. namun, sepertinya pesona Abinama Arya lebih kuat (hahaha, ketauan deh.. Maapkeun saiyah ya.. Saya pengagum baik-baik, kok ^^). Hehehe.. Selain itu juga karena sudah lama saya ingin kembali silaturahim dengan teman-teman IHB dan berharap bisa memotivasi saya untuk kembali menulis.




Ok, back to the movie. Saya bukan seorang movie reviewer yang handal, saya hanya seorang yang suka menonton (kadang saya menulis diri saya sebagai seorang #movieaddict dalam konteks yang baik tentunya). Film ini diangkat dari sebuah buku karya Hanum Rais dan Rangga, suaminya, dalam perjalanan mereka di benua Amerika. Saya sendiri belum membaca buku "Bulan Terbelah di Langit Amerika", saya baru baca karya sebelumnya, yaitu "99 Cahaya di Langit Eropa" yang sukses membuat saya berazzam untuk bisa meninjakkan kaki sampai benua Eropa, menapaktilasi keindahan Islam disana. Saya pun sudah menonton filmnya.


Diawali dengan adegan Hanum-Rangga yang sedang bersantai disebuah taman, memandangi sekumpulan bocah yang sedang bermain (bahkan Rangga pun ikut bermain), dan kemudian mereka merasakan kerinduan akan hadirnya buah hati ditengah-tengah rumah tangga mereka. Tak lama, atasan Hanum di Viena, Gertrude, menelpon. Ia meminta Hanum meliput tentang Pelaut China yang lebih dulu menginjakkan kaki di benua Amerika, jauh sebelum Colombus.

Kemudian penjalanan peliputan membawa Hanum, Rangga, dan Stefan, teman Rangga, ke San Fransisco. Kok tiba-tiba ada Stefan dalam perjalanan mereka?? Karena Stefan akan melakukan perjalanan menemukan kembali belahan jiwanya yang sudah pergi ke San Fransisco, ia akan memperjuangkan cintanya. Disana, Hanum juga akan bertemu Julia Collins atau Azima (Kalau menonton BTdLA 1, Julia dan putrinya, Sarah, adalah salah satu tokoh central dalam cerita tersebut, dimana suaminya dituduh sebagai salah satu teroris dalam tragedi 9-11). Julia sebagai seorang sejarawan akan membantu Hanum dalam mencari bahan untuk liputannya. Sebenarnya, Julia juga membutuhkan bantuan Hanum untuk menyatukannya kembali dengan ibunya yang sejak Julia menjadi Mualaf dan menikah dengan suaminya, ia berpisah dengan orang tuanya. Dan ditambah lagi dengan tragedi 9-11, Ibunya Julia masih menganggap bahwa suami Julia adalah orang jahat, seorang teroris.

Pencarian mereka bermula dengan menghubungi informan yang diberikan oleh Gertrude, Peter Cheng. Peter dianggap mempunyai salah satu bukti yang menunjukkan bahwa memang benar, pelaut muslim China adalah yang pertama menemukan benua Amerika. Bukti itu berupa sebuah koin China kuno yang berdasarkan sejarah, tulisan yang merada pada koin tersebut menunjukkan bahwa koin tersebut merupakan koin peninggalan pelaut muslim China pada masa itu, hanya saja belum dapat dibuktikan apakah koin tersebut ditemukan di San Fransisco atau tidak.

Sejak melihat dan menyimpan koin tersebut, hidup Hanum berada dalam masalah. Ia dikejar oleh seorang pemuda yang menginginkan agar Hanum mengembalikan koin tersebut. Hanum menjadi bertanya-tanya, apakah "nilai" yang dimiliki oleh koin tersebut sehingga pemuda tersebut mengejarnya?

Lalu bagaimanakah Hanum bisa melepaskan diri dari pemuda yang mengincarnya? Apakah koin kuno tersebut merupakan bukti yang kuat bahwa memang benar pelaut China Muslimlah penemu benua Amerika? Bagaimanakah nasib Stefan dan belahan jiwanya, serta nasib Azima, Sarah, dan Ibunya Azima? Lalu bagaimana pula dengan usaha yang dilakukan oleh Hanum dan Rangga melalui ikhtiarnya dalam memperoleh buah hati??

Sabar, kalau penasaran, langsung aja datang ke bioskop terdekat untuk menonton langsung Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Mulai tanggal 8 Desember 2016, which is kamis ini. Atau biar gambang, kamis pagi (biasanya sekitar pukul 10 udah di release jadwal film hari tersebut, hehehe. Sampe apal ^^)langsung aja buka www.21cineplex.com untuk cek jadwal dan bioskop terdekat yang memutarkan film tersebut. Boleh juga liat official trailernya sebelum nonton.


Selamat menikmati kisah Hanum, Rangga, Stefan, Julia, dan Sarah ya.. Saran saya, nikmati aja filmnya, khususnya untuk yang udah baca bukunya, never compare the story from the book and the story from the movie. It's not apple to apple, because literacy is different from cinematography. Just enjoy the movie.

Ibroh dari film ini untuk saya pribadi khususnya adalah film ini membangkitkan keingintahuan saya untuk memperdalam ilmu tentang Islam. Saya semakin penasaran, "Is it true that Muslim sailor is the first one who discover America?". Dan pesan cinta sejak "99 Cahaya di Langit Eropa" masih melekat dan terbawa hingga "Bulan Terbelah di Langit Amerika", bahwa tugas kita adalah menjadi agent muslim yang baik, terus berbuat baik dan sebarkan bahwa Islam itu damai, Islam itu indah.

Terima kasih untuk komunitas Indonesia Hijab Blogger atas kesempatan nobarnya, atas silaturahimnya. Saya merasa bersemangat dan terus terinspirasi. Sukses terus dan istiqomah yaa...
Ga afdhol kalo ga berfoto bersama (foto dari kameranya mb Witha dan Teh Lisna, makasiy yaa..)





 


Srengseng, 6 Desember 2016

Nisa Rachma