Pertengahan
Februari 2017 lalu, saya membaca sebuah pengumuman di instagram Eiger,
salah satu brand outdoor Indonesia : akan diadakan kegiatan susur goa.
Wah, sepertinya menarik. Saya membaca pengumuman dengan seksama tentang
bagaimana cara mendaftar kegiatan tersebut. Lalu pada tanggal dan jam
yang ditentukan, saya mengirimkan pesan kepada Cp kegiatan tersebut.
Selama 2,5 jam harap-harap cemas, pesan saya berbalas. Yey,
alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti kegiatan outdoor tersebut.Singkat
cerita, saya dan 49 orang lainnya berkenalan melalui grup WA yang
sengaja dibentuk untuk memudahkan koordinasi sebelum kegiatan
berlangsung. Mayoritas dari kami belum saling kenal, dan kami saling
memfollow akun instagram masing-masing. Jujur, saya pribadi rada jiper
setelah memfollow akun instagram peserta lainnya, karena kebanyakan
mereka adalah "petarung" outdoor : Fotografer outdoor, pendaki gunung,
pemanjat dinding, travel blogger, outdoor blogger. Ada juga yang bukan
"Petarung" outdoor, namun profesional dibidang olahraga, mahasiswa
pecinta alam juga banyak. Apalah saya yang cuma pelari pemula yang sudah
lama "gantung carrier" dan tidak berkecimpung di area outbound lagi.Tapi
saya tidak patah semangat, malah semakin terpacu. Toh niatnya menuntut
ilmu, dan saya berharap bisa belajar juga dari teman-teman peserta
lainnya. Singkat cerita menjelang hari H, kami bahkan membentuk beberapa
group kecil, agar memudahkan keberangkatan. Saya dan 13 orang yang
berasal dari Jabodetabek sepakat berangkat bareng naik kereta dari Bogor
menuju Sukabumi, tempat meeting point kami. Seorang dari kami menjadi
korlap perjalanan membantu rekan-rekan yang lain untuk memesan tiket
dll. Kami bersepakat bertemu di stasiun Bogor jam 7.00.
Hari H : Our Journey is started.
 |
| My starting point |
Dari
pagi grup Line heboh bener mengabarkan lokasi kami masing-masing. Ya,
karena kami berangkat dari stasiun yang berbeda-beda. Untuk mencapai
stasiun Bogor jam 7.00 kami harus berangkat pagi-pagi buta, saya sendiri
berangkat jam stengah 6 dari stasiun Gondangdia, diantar adik. Sampai
stasiun Gondangdia jam 6 dan siap ber-KRL ria. Apadaya, saya terlambat.
Butuh 1 jam 15 menit ternyata untuk menuju stasiun Bogor dari
Gondangdia. Ternyata beberapa teman yang sudah sampai stasiun Bogor
duluan sudah bergerak menuju Stasiun Paledang, maka saya langsung menuju
stasiun Paledang. Saya juga sempat bertemu dengan Eka dan Bang Bowo
saat menuju stasiun Paledang.
Sampai di Stasiun Paledang, saya
akhirnya bertemu langsung dengan orang yang selama ini hanya bersua di
grup : Ada Nisa (yang akhirnya menyerah untuk dipanggil Nisa, diganti
Sulis), Lydia, Bang Derry, Bang Ade, Bang Faiz, Wildan, Marcel, Jojo,
Bang Rivai, Adam, dan haykal. sampai stasiun Sukabumi kami mencarter 2
angkot menuju meeting point di Sekretariat Spelcabumi, di belakang
terminal baru sukabumi. Yey, kami adalah rombongan pertama yang sampai
lokasi, tapi bukan peserta pertama, karena Kang Dado yang berasal dari
Sukabumi sudah sampe lokasi duluan. Kami langsung daftar ulang,
menyerahkan persyaratan, mengisi formulir dan letter of concent. Sambil
menunggu peserta yang lain, peserta laki-laki menuju masjid terdekat
untuk melaksanakan sholat jum'at. Kami juga makan siang di warung makan
sekitar lokasi dan melakukan pengecekan barang bawaan terakhir
(dibongkar beneran semua bawaan kita dan di ceklist satu per satu).
 |
| Tim Jabodetabek sampai di Stasiun Sukabumi |
 |
| Daftar ulang dan lapor diri |
|
|
|
|
|
|
|
|
Sekitar
jam 2 siang, kami mulai bersiap untuk berangkat. Kami dibagi menjadi
beberapa grup dan dipecah menjadi 2 kelompok besar terkait transportasi
keberangkatan menuju Buniayu. Kami berangkat naik tronton. Sudah lama ga
naik tronton, terakhir naik tronton pas OTFA SD dan SL di Sekolah Alam
Indonesia. Medan perjalanan benar-benar luar biasa: nanjak, berliku, dan
banyak titik yang berlubang. Jadi kebayang, kan hebohnya didalam
tronton? hehehe. Pusing? Mau muntah? Banyak kok, peserta yang merasakan
hal tersebut, obatnya ya diusahakan tidur saja.
Perjalanan
memakan waktu sekitar 1,5 jam dan kami tiba di lokasi. Dari pintu
gerbang menuju campground, kami berjalan kaki sekitar 200 m. Duh, saya
benar-benar teringat OTFA, dimana anak-anak turun dari tronton, kemudian
menggendong carrier atau backpack besar mereka menuju lokasi
campground. Setelah tiba di campground, kami dibagikan beberapa
perlengkapan untuk digunakan dan dijaga selama kegiatan : sepatu boots,
wearpack, helm, sarung tangan, kaos kegiatan, slayer, dan beberapa
sticker. Lalu kami diminta meletakkan barang-barang didalam tenda dan
menuju lapangan untuk memulai upacara pembukaan.
 |
| Plang Masuk Goa Buniayu |
 |
| Perkap Peserta |
 |
| Tenda Peserta |
 |
| Langsung pasang hammock di tengah-tengah tenda |
Upacara pembukaan sederhana, ada beberapa sambutan diantaranya dari Pak Fery (CEO BAT-Buniayu Adventure & Training), sambutan dari Pak Cahyo (Ketua HIKESPI-CEO pengelola Goa Jomblang, Jogja), dan dari Kang Galih (Eiger Adventure). Usai pembukaan, kami menikmati sore dengan wedang jahe dan getuk, sambil aklimatisasi tentunya.
 |
| Sambutan dari Ketua Hikespi |
 |
| Sambutan Kang Galih dari Eiger Adventure |
 |
| Penyalaan Lampu Karbit oleh Pak Cahyo dan Pak Fery yang diwakili oleh Mbak Shely dari Jogja |
 |
| Mandathory picture : Foto dengan background :) |
 |
| Foto setelah menikmati welcome snack and drink |
 |
| Foto bersama seluruh peserta dan panitia |
Kegiatan selanjutnya dimulai selepas maghrib. Kami sholat maghrib-isya, makan malam, dan ada materi pengenalan Goa dan Speleologi yang disampaikan oleh Pak Fery. Saya sendiri asing dengan istilah speleologi, saya taunya ya caving alias menelusuri goa. Tapi ternyata berbeda. Malam itu saya belajar banyak tentang apa itu goa, bahwa mayoritas goa di Indonesia adalah goa kars, apa bedanya caver (sekedar penelusur) atau spelunker (penelusur yang juga mencatat data-data yang ia dapat selama menelusur), peralatan apa saja yang dipakai saat menelusuri goa, biota goa, ornamen goa, dll. Dan saya cuma bisa ber-oo ria karena banyak yang baru saya ketahui saat itu. Lepas materi, kami kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
Hari Kedua : Penjelajahan Goa Horizontal dan Belajar SRT.
Pagi
hari kami dibangunkan pukul 4 pagi (honestly, banyak yang ga bangun,
sih). Ql, sholat shubuh, beres-beres, dan jam 6 kami hormat bendera.
Selama kegiatan, kami bersepakat bahwa setiap pukul 6 pagi, bendera
merah putih akan dikibarkan dan setiap jam 6 sore bendera akan
diturunkan, dan kami akan melakukan ceremony hormat bendera pada jam-jam
tersebut. Setelah sarapan, kami memulai penjelajahan goa horizontal. Oh
iya, ada 2 tipe goa yang akan kami jelajahi selama kegiatan : goa
horizontal dan goa vertikal. Sebenarnya ada sekitar 84 goa yang ada di
Buniayu yang saling terhubung, namun hanya kurang dari 5 goa yang
dijadikan goa wisata dan itupun penelusurannya dibatasi agar habitat
dalam goa tetap terjaga. Kami berkesempatan menjelajah 2 buah goa
horizontal pagi itu : goa landak (400 m) dan goa "si buta dari goa
hantu" (200 m).
Melalui entrance goa yang tidak terlalu besar,
namun agak lebar, kami berusaha sedemikian rupa mencari posisi yang
terbaik untuk masuk kedalam goa. Baru mau masuk, medan kami sudah penuh
dengan lempung yang berarti sangat licin dan harus ekstra hati-hati.
Sudah dikaitkan tali dan webbing dibeberapa titik untuk memudahkan
pegangan memang, namun hati-hati dan mendengarkan instruksi dari
instruktur dan asisten instruktur amat diperlukan. Memasuki zona senja
dan zona gelap abadi, kami hanya bergantung pada headlamp yang terikat
pada helm kami. Kami saling bantu dan saling jaga agar kami semua aman
dan selamat pada penelusuran goa.
 |
| Ornamen Goa |
|
|
|
Ada yang
menarik saat berada didalam zona gelap abadi. Kami semua diminta untuk
mematikan seluruh penerangan yang kami miliki dan berkontemplasi. Tidak
lama, hanya sekitar 1-2 menit. Saat itu kami membayangkan
saudara-saudara kami yang memang diberi anugerah untuk tidak bisa
melihat sama sekali, yang berarti mereka selalu berada dalam zona gelap
abadi. Ada pula yang membayangkan suasana didalam kubur. Ya, karena
segelap itu yang akan kita hadapi didalam kubur. Ya, dalam zona gelap
abadi, meski dalam keadaan mata terbuka kita tidak akan bisa melihat
apapun, termaksud jika kita menggerakkan tangan kita didepan mata. Dan
simulasi zona gelap abadi ini tidak boleh berlangsung terlalu lama,
karena mata kita membutuhkan cahaya dan jika terlalu lama maka
dikhawatirkan syaraf mata kita akan rusak dan mengalami kebutaan.
Penjelajahan
kami di goa horizontal berakhir sekitar pukul 12.00. Selepas sholat
dhuhur-ashar dan makan siang, kami masuk pada materi persiapan
penjelajahan goa vertikal keesokan harinya. Kami belajar teknik tali
singular atau SRT (single rope technic), teknik yang biasa dilakukan
dalam penjelajahan goa vertikal. Kami belajar bagaimana caranya naik dan
turun menuju dan keluar goa dibantu oleh beberapa alat : ascender,
descender, tali, karabiner, seat harnest, dll. Saya belum pernah belajar
SRT, pernahnya rapelling (pada saat outbound), maka saya menyimak dan
berusaha dengan baik. Banyak diantara peserta yang sudah mahir dan
terbiasa dengan teknik SRT ini. Selain belajar teknik SRT, sambil
menunggu giliran untuk praktek naik dan turun dengan SRT, kami belajar
beberapa simpul : simpul 8, 9 dan 10.
 |
| Sambil nunggu giliran, berlatih simpul |
 |
| Yang SRT fokus, yang belajar simpul ga kalah fokus |
Usai materi SRT, kami bersiap untuk makan malam, ceremony penurunan bendera, dan sholat maghrib-isya. Agenda malam adalah debrief pasca penelusuran goa horizontal dan api unggun. Masing-masing kelompok menyampaikan apa yang telah mereka pelajari selama di goa. Beberapa peserta juga diminta berbagi pengalaman. Ada Mbak Rimping yang berbagi pengalamannya menelusur goa (beluai sudah menjelajah 32 goa di pulau jawa sejak 2014), Kang Aswi yang bercerita tentang pengalaman perjalannanya yang beliau tuangkan dalam blog perjalanannya. Ada juga Adam yang membuat program zero waste hiking dan tahun ini lepas lebaran akan kembali mendaki 10 gunung. Sebenarnya daerah Buniayu tidak terlalu dingin, karena letaknya tidak terlalu tinggi (sekitar 700 mdpl), namun karena sore lepas belajar SRT sempat hujan, maka api unggun malam itu sangat tepat dalam menghangatkan badan dan suasana. Lepas itu, kami beristirahat untuk menyiapkan diri dihari selanjutnya.
 |
| Debrief and sharing session, sebelum api unggun |
Hari ketiga: Penjelajahan Goa Vertikal dan Penanaman Bibit Tanaman Seperti hari sebelumnya, jadwal kami bangun pukul 4. Kali ini lebih banyak yang tidak bangun, hehehe. Mungkin banyak yang kelelahan. Dan panitia pun tidak membangunkan pukul 4 (panitia baru membangunkan sekitar pukul 4.45). Saya sendiri baru bangun, menuju musholla sekitar pukul 4.15 karena menjawab panggilan alam (baru terasa dinginnya setelah diguyur hujan membuat saya harus buang air kecil). Sholat shubuh, membereskan sleeping bag, mengenakan wearpack, sarapan, ceremony hormat bendera, dan bersiap untuk penjelajahan goa vertikal.
 |
| Pengarahan sebelum memulai penelusuran Goa Vertikal |
 |
| Salah satu peserta "siap dikerek" masuk kedalam goa vertikal |
Untuk
penjelajahan goa vertikal ini, kami menggunakan wearpack karena medan
dalam goa lebih licin dan akan basah karena akan menelusuri via sungai
dalam goa. Dan karena jumlah kami yang cukup banyak, kami turun kedalam
goa tidak dengan teknik SRT yang kami pelajari, kami masing-masing
dikerek untuk mempersingkat waktu. Tidak apa, yang penting sudah belajar
teknik SRT. Kami turun sekitar 18 meter menuju goa dan memulai
penelusuran dengan mengikuti aliran sungai dalam goa. Kedalaman sungai
bervariasi. Pada awalnya hanya sekitar setengah betis, lalu pada
beberapa titik ada yang sampai sepinggang saya (tinggi saya sekitar 165
cm, berarti sekitar 1 m). Kami tetap harus berhati-hati karena pijakan
kami tertutup oleh air. Ada beberapa titik dimana kami harus ekstra
menunduk agar tidak merusak stalaktit dalam goa (dimana buat saya yang
berkaki panjang ini sangat suliit, sehingga probabilitas kepala saya
terbentur lebih tinggi).
 |
| Instruktur memberikan informasi mengenai biota dan ornamen goa |
Diakhir
perjalanan, medannya adalah medan lumpur lempung. Sekali injak, kaki
saya bisa terperangkap hampir sebetis. Saya pun beberapa kali merasakan
kaki saya sulit untuk ditarik dan melangkah. Sepatu boots yang saya
kenakan hampir tertinggal didalam lumpur. Setelah melihat teknik
melangkah yang dicontohkan oleh asisten instruktur, saya jadi lebih
mudah dalam bergerak di medan lumpur. Caranya? Melangkah menggunakan
lutut terlipat (seperti posisi kneeling, namun terus bergerak). Ya,
karena dengan luas permukaan yang lebih besar (saat kneeling, permukaan
sentuh di medan lumpur menjadi lebih lebar : dari lutut, tulang kering,
sampai ujung kaki. Sedangkan kalau berdiri, luas permukaan hanya selebar
telapak kaki) dengan gaya berat dari badan kita, maka tekanannya akan
lebih tinggi saat kita berjalan normal sambil berdiri. Alhamdulillah ya,
ilmu fisikanya kepake, hehehe.
 |
| Melihat cahaya setelah beberapa jam didalam goa : Legaaaa :) |
Keluar
goa vertikal, kami menuju curug (saya lupa nama curugnya) untuk
membersihkan badan yang penuh lumpur. Di curug inilah saya teledor dan
kehilangan alat bantu melihat saya. Jadi ceritanya, saya sedang
menggosok lumpur pada sepatu boots dan wearpack bagian kaki. Karena
banyaknya air yang menciprati wajah, saya putuskan untuk melepas
kacamata dan meletakkannya pada saku depan wearpack. Namun saya tidak
menutup rapat retsleting sakunya sehingga saat saya menunduk, plung,
kacamata saya jatuh dan terhanyut dalam derasnya aliran air curug. Ya
salaaamm, mau saya sudah meraba-raba dasar curug, tetap saja nihil. Maka
saya bergantung pada penglihatan saya yang samar-samar. Sebenarnya
minus mata saya tidak besar, hanya minus 2 dan 2,5, namun karena saya
hampir selalu menggunakan kacamata (kecuali saat mandi dan tidur,
meskipun pernah juga pas mandi pake kacamata), jadi mata saya selalu
bergantung pada kacamata. Alhamdulillah kegiatan sudah hampir berakhir,
jadi tidak terlalu bermasalah.
 |
| Yeay, wateeerrrr.. ^^ |
Lepas membersihkan diri di curug, kami kembali menuju campground untuk mandi, sholat dan packing. kami juga merubuhkan tenda masing-masing dan mengembalikan perlengkapan yang kami pinjam dari panitia. Lalu kami makan siang bersama : makan besar dengan menu favorit : nasi liwet, lalapan, ikan asin, sambel, oncom, tempe tahu goreng yang semuanya disajikan diatas daun pisang. Sedaaappp. Usai makan siang, kami bersiap untuk upacara penutupan, melalukan prosesi penanaman bibit pohon secara sederhana, dan bersiap kembali menuju meeting point sekretariat spelcabumi.
 |
| Makan Besar, yumyum |
 |
| Persiapan Penutupan |
 |
| Penutupan kegiatan susur goa |
 |
| Tim Jabodetabek bersama Kang Galih |
Sampai
sekretariat spelcabumi, hujan turun. Kami semua berteduh sebentar
sebelum memutuskan untuk kembali ke daerah masing-masing. Mayoritas
peserta datang dari arah Bandung langsung menuju terminal untuk pulang.
Teman-teman Jabodetabekbanten? Kami menumpang bermalam di rumah Bu
Korlap yang tidak jauh dari lokasi meeting point. Alasannya karena hari
itu hari minggu dan sudah hampir maghrib dimana dipastikan perjalanan
darat dari sukabumi menuju bogor akan cukup padat dan bisa-bisa kami
sampai rumah besok pagi juga. Beberapa dari kami akan pulang dengan
kereta terpagi yaitu pukul 5.00 dan kereta pukul 10.00. Saya dan
beberapa lainnya memutuskan untuk naik elf jam 2 dini hari dengan
harapan sampai di Jakarta masih pagi dan kami bisa kembali beraktivitas
rutin. Benar saja, pukul 3.55 kami sudah tiba di stasiun KRL Bogor dan
siap "menyambung tidur" diatas KRL menuju domisili kami masing-masing.
Perjalanan
hampir 4 hari 3 malam ini merupakan pengalaman baru untuk saya. saya
bertemu dengan semua teman baru, belajar ilmu baru dan mendapatkan
banyak sekali pelajaran. Terima kasih untuk penitia penyelenggara dari
Buniayu Adventure and training, terima kasih juga untuk Eiger Adventure
Service and Training karena telah menyelenggarakan kegiatan yang super
duper awesome ini, dan terima kasih juga untuk Hikespi yang sudah
membagi ilmunya terkait dengan Goa dan Spleleologi. I felt contented
after training.
Let's go under !!!
Nisa Rachma
Note :
Sebenarnya sudah lama saya ingin menyelesaikan tulisan ini, namun kendalanya banyak sekali ya?? Banyak yang ingin saya tuangkan, tiba-tiba stuck didepan laptop, malas yang seringkali datang, drama korea-jepang yang menggoda untuk lebih dulu ditonton, dll. Alhamdulillah setelah 3 minggu pasca kegiatan, tulisan ini rampung. Manseeeee !!! Semoga bermanfaat :)
Foto-foto saya peroleh dari Fanspage Buniayu Adventure and Training di facebook (monngo di follow), dari kameranya Sulis dan kang Dadan, serta teman-teman grup Susur Goa. Terima kasih semuanya. Silahkan follow Eiger dan BAT untuk mengetahui informasi kegiatan menarik lainnya.
#susurgoa #naturaladventure #caving #speleologi #buniayucave #eigeradventure
No comments:
Post a Comment