"Apakah Muslim Penemu Amerika?"
Tagline dalam bentuk kalimat tanya diatas menjadi tagline sebuah film yang akan tayang di bioskop pada tanggal 8 Desember 2016 mendatang, "Bulan Terbelah di Langit Amerika 2". Alhamdulillah saya berkesempatan nonton premier film tersebut sabtu kemarin, 3 Desember 2016 bareng teman-teman Indonesia Hijab Blogger (Thanks a bunch for silaturahim and the ticket yaa ^^). Pada saat yang bersamaan, sebenarnya saya juga punya undangan untuk menghadiri reuni akbar Undip, kampus saya tercinta di Ecopark, Ancol. namun, sepertinya pesona Abinama Arya lebih kuat (hahaha, ketauan deh.. Maapkeun saiyah ya.. Saya pengagum baik-baik, kok ^^). Hehehe.. Selain itu juga karena sudah lama saya ingin kembali silaturahim dengan teman-teman IHB dan berharap bisa memotivasi saya untuk kembali menulis.
Tagline dalam bentuk kalimat tanya diatas menjadi tagline sebuah film yang akan tayang di bioskop pada tanggal 8 Desember 2016 mendatang, "Bulan Terbelah di Langit Amerika 2". Alhamdulillah saya berkesempatan nonton premier film tersebut sabtu kemarin, 3 Desember 2016 bareng teman-teman Indonesia Hijab Blogger (Thanks a bunch for silaturahim and the ticket yaa ^^). Pada saat yang bersamaan, sebenarnya saya juga punya undangan untuk menghadiri reuni akbar Undip, kampus saya tercinta di Ecopark, Ancol. namun, sepertinya pesona Abinama Arya lebih kuat (hahaha, ketauan deh.. Maapkeun saiyah ya.. Saya pengagum baik-baik, kok ^^). Hehehe.. Selain itu juga karena sudah lama saya ingin kembali silaturahim dengan teman-teman IHB dan berharap bisa memotivasi saya untuk kembali menulis.
Ok, back to the movie. Saya bukan seorang movie reviewer yang handal, saya hanya seorang yang suka menonton (kadang saya menulis diri saya sebagai seorang #movieaddict dalam konteks yang baik tentunya). Film ini diangkat dari sebuah buku karya Hanum Rais dan Rangga, suaminya, dalam perjalanan mereka di benua Amerika. Saya sendiri belum membaca buku "Bulan Terbelah di Langit Amerika", saya baru baca karya sebelumnya, yaitu "99 Cahaya di Langit Eropa" yang sukses membuat saya berazzam untuk bisa meninjakkan kaki sampai benua Eropa, menapaktilasi keindahan Islam disana. Saya pun sudah menonton filmnya.
Diawali dengan adegan Hanum-Rangga yang sedang bersantai disebuah taman, memandangi sekumpulan bocah yang sedang bermain (bahkan Rangga pun ikut bermain), dan kemudian mereka merasakan kerinduan akan hadirnya buah hati ditengah-tengah rumah tangga mereka. Tak lama, atasan Hanum di Viena, Gertrude, menelpon. Ia meminta Hanum meliput tentang Pelaut China yang lebih dulu menginjakkan kaki di benua Amerika, jauh sebelum Colombus.
Kemudian penjalanan peliputan membawa Hanum, Rangga, dan Stefan, teman Rangga, ke San Fransisco. Kok tiba-tiba ada Stefan dalam perjalanan mereka?? Karena Stefan akan melakukan perjalanan menemukan kembali belahan jiwanya yang sudah pergi ke San Fransisco, ia akan memperjuangkan cintanya. Disana, Hanum juga akan bertemu Julia Collins atau Azima (Kalau menonton BTdLA 1, Julia dan putrinya, Sarah, adalah salah satu tokoh central dalam cerita tersebut, dimana suaminya dituduh sebagai salah satu teroris dalam tragedi 9-11). Julia sebagai seorang sejarawan akan membantu Hanum dalam mencari bahan untuk liputannya. Sebenarnya, Julia juga membutuhkan bantuan Hanum untuk menyatukannya kembali dengan ibunya yang sejak Julia menjadi Mualaf dan menikah dengan suaminya, ia berpisah dengan orang tuanya. Dan ditambah lagi dengan tragedi 9-11, Ibunya Julia masih menganggap bahwa suami Julia adalah orang jahat, seorang teroris.
Pencarian mereka bermula dengan menghubungi informan yang diberikan oleh Gertrude, Peter Cheng. Peter dianggap mempunyai salah satu bukti yang menunjukkan bahwa memang benar, pelaut muslim China adalah yang pertama menemukan benua Amerika. Bukti itu berupa sebuah koin China kuno yang berdasarkan sejarah, tulisan yang merada pada koin tersebut menunjukkan bahwa koin tersebut merupakan koin peninggalan pelaut muslim China pada masa itu, hanya saja belum dapat dibuktikan apakah koin tersebut ditemukan di San Fransisco atau tidak.
Sejak melihat dan menyimpan koin tersebut, hidup Hanum berada dalam masalah. Ia dikejar oleh seorang pemuda yang menginginkan agar Hanum mengembalikan koin tersebut. Hanum menjadi bertanya-tanya, apakah "nilai" yang dimiliki oleh koin tersebut sehingga pemuda tersebut mengejarnya?
Lalu bagaimanakah Hanum bisa melepaskan diri dari pemuda yang mengincarnya? Apakah koin kuno tersebut merupakan bukti yang kuat bahwa memang benar pelaut China Muslimlah penemu benua Amerika? Bagaimanakah nasib Stefan dan belahan jiwanya, serta nasib Azima, Sarah, dan Ibunya Azima? Lalu bagaimana pula dengan usaha yang dilakukan oleh Hanum dan Rangga melalui ikhtiarnya dalam memperoleh buah hati??
Sabar, kalau penasaran, langsung aja datang ke bioskop terdekat untuk menonton langsung Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Mulai tanggal 8 Desember 2016, which is kamis ini. Atau biar gambang, kamis pagi (biasanya sekitar pukul 10 udah di release jadwal film hari tersebut, hehehe. Sampe apal ^^)langsung aja buka www.21cineplex.com untuk cek jadwal dan bioskop terdekat yang memutarkan film tersebut. Boleh juga liat official trailernya sebelum nonton.
Selamat menikmati kisah Hanum, Rangga, Stefan, Julia, dan Sarah ya.. Saran saya, nikmati aja filmnya, khususnya untuk yang udah baca bukunya, never compare the story from the book and the story from the movie. It's not apple to apple, because literacy is different from cinematography. Just enjoy the movie.
Ibroh dari film ini untuk saya pribadi khususnya adalah film ini membangkitkan keingintahuan saya untuk memperdalam ilmu tentang Islam. Saya semakin penasaran, "Is it true that Muslim sailor is the first one who discover America?". Dan pesan cinta sejak "99 Cahaya di Langit Eropa" masih melekat dan terbawa hingga "Bulan Terbelah di Langit Amerika", bahwa tugas kita adalah menjadi agent muslim yang baik, terus berbuat baik dan sebarkan bahwa Islam itu damai, Islam itu indah.
Terima kasih untuk komunitas Indonesia Hijab Blogger atas kesempatan nobarnya, atas silaturahimnya. Saya merasa bersemangat dan terus terinspirasi. Sukses terus dan istiqomah yaa...
Ga afdhol kalo ga berfoto bersama (foto dari kameranya mb Witha dan Teh Lisna, makasiy yaa..)
Srengseng, 6 Desember 2016
Nisa Rachma
Nisa Rachma








"literacy is different from cinematography"
ReplyDeletesetuju banget ama kata2nya diatas. jd dinikmatin aja dua-duanya, yaa. hehe
toss dulu mb..
DeleteSering ngbandingin bikin kita malah ga nikmatin filmnya.
Kan sayang banget..
kalau nonton yang pertama, aku sempet punya pikiran, oh cuma itu aja tanda keislamannya, semoga yang kedua ini enggak, disisi lain mah tetep kagum dengan tanda-tanda itu
ReplyDeleteSamaa mbaaa..
DeleteSama pesis dari sejak nonton 99 cahaya..
Tapi aku ubah persepsi nonton aku mba, apa yang bisa aku pelajari dari yang sedikit itu, dan jadi akhirnya mulai nyari dan browsing ttg ekspedisi pelaut china muslim ke amerika..
Tapi abinya ga ada nisaaaa,hahaha. Setuju tugas kita emang kudu jd agent muslim yang baik yes. Jadi indahnya Islam bisa tercermin dari diri kita.
ReplyDeleteiyaahh teteh, sibuk conpers..
Deletehahaha..
yup, semoga bisa terus sama-sama menjadi agent muslim yang baik, teh
Mba nisa bikin aku mupeng buat nonton ni..
ReplyDeleteBlm baca novelnya jg mb, tapi dulu terkagum kagum jg sm novel 99 cahaya
selamat menikmati ca..
Deletecek ajadi webnya 21cineplex besok pagi..
semoga bisa mengambil ibroh dari film tersebut :)
Aku belum sempet nonton BTDLA 1, eeeh udah ada yg ke-2 aja. Ngerti ga yaa kira-kira kalo langsung nonton yang ke-2? Kalo 99 Cahaya Di Langit Eropa aku udah nonton dua-duanya sih..
ReplyDeleteKalo cerita siy berhubungan mba, tapi bisa dinikmati terpisah ko.
DeleteBeberapa adegan flashback juga dimunculin..
Selamat menonton :)
Blom baca bukunya, tapi menikmati filmnya :) see you again soon, nisa ♥
ReplyDeletesee you again mb Listya..
Deletein syaa Allah :D
Iyap. Dimana-mana film yg berdasarkan novel itu memang biasanya suka beda. Meskipun begitu tetap nikmati aja. karena setuju banget kalau "literacy is different from cinematography"
ReplyDelete