Cerita diawali sebuah narasi monolog yang cukup panjang dari seorang anak perempuan bernama Gita Ayu Pratiwi. Dalam narasinya, Gita bercerita tentang kakak laki-laki satu-satunya, orang yang selalu melindungi Gita, orang yang selalu menemani Gita. Namanya Gagah Perwira Pratama. Tergambar pula adegan-adegan kedekatan Gita dengan Mas Gagah. Ya, hubungan adik-kakak ini memang sangat karib. Hingga sang ayah meninggal, Mas Gagah menjadi sosok yang benar-benar bisa diandalkan. Ia menjadi sosok laki-laki yang bertanggung jawab untuk Mama dan adiknya.
Kaya apa sih, Mas Gagah itu?
Secara fisik, Mas Gagah tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, seperti namanya, tampan, tinggi, cukup ideal. Ia bahkan bergabung dalam suatu Agency Model dan sering berjalan di pergelaran busana memperagakan busana-busana dari perancang terkenal. Selain itu, Mas Gagah merupakan sosok yang baik, mudah bergaul, ramah, dan asik. Teman-teman Mas Gagah beragam, dari mulai yang ganteng-cantik layaknya model, anak-anak gaul teman kampusnya, hingga anak-anak Rohis yang biasa "mangkal" di musholla kampus. Orangnya ramaaahhh sekali, buktinya teman-teman Gita suka "nongki-nongki canci" bersama Mas Gagah dan Gita. Supel dan asik diajak bergaul dimana aja.
Kalau Gita, seperti apa?
Si Bungsu merupakan adik kesayangan Mas Gagah. Aslinya cantik, namun gayanya cukup tomboy. Ia bahkan memangkas rambutnya menjadi sangat pendek seperti anak laki-laki (sampai sempat dipanggil "Gito" oleh Mas gagah). Style ala Gita : Celana panjang (seringnya sih celana jeans) dengan kaos dan kemeja diluarnya, tak lupa sebuah topi yang dipakai terbalik (bagian depan berada dibelakang). Penampilan Gita jauh dari kata feminim. Bahkan satu-satunya rok yang ia punya adalah rok seragam sekolahnya. Walau begitu Gita merupakan sosok yang ramah. Ia bergaul dengan siapa saja. Kalau di sekolah, Gita sering terlihat bersama sahabatnya yang bernama Tika (Tika ini feminim banget, loh, berbeda dengan Gita).
Suatu hari Mas Gagah pergi ke Ternate untuk menyelesaikan tugas penelitiannya selama 1-2 bulan. Waktu yang lama untuk Gita dan Mas Gagah berpisah. Setengah mati Gita merayu Mas Gagah agar mengurungkan rencananya pergi ke Ternate, atau meminta Mas gagah untuk mengajaknya serta. Namun dengan berat hati Gita akhirnya merelakan kepergian kakaknya sementara.
Setelah 1-2 bulan, Mas Gagah pulang. Ada yang berbeda dengan Mas Gagah sekarang. Ada apa dengan Mas Gagah?
Penampilan Mas Gagah berubah drastis! Mas Gagah lebih sering menggunakan baju koko ataupun kemeja dibandingkan baju-baju gaul dan stylish yang biasa dipakainya. Selain itu, Mas Gagah menumbuhkan jenggotnya. Buat Gita, sosok Mas Gagah sekarang berbeda dengan kakaknya yang biasanya.
Selera musik Mas Gagah juga berubah. Kali ini ia lebih menikmati bacaan Al Qur'an (murotal), lagu-lagu berbahasa Arab ataupun nasyid, sebuah aliran musik baru buat Gita. Kata Mas Gagah, "..Mending dengerin ini Git. Selain menghibur juga bermanfaat, mengingatkan kita kepada Allah".
Dan perubahan drastis lainnya menurut Gita adalah sekarang Mas Gagah sudah tidak mau bersalaman dengan perempuan lagi. Iih, sombong sekali Mas Gagah sekarang. Kalau ada perempuan yang mengajak bicara seringnya nunduk, terus waktu diajak salaman malah narik tangannya dan bersalaman tanpa bersentuhan.
Aktivitas mas Gagah juga banyak berubah. "Nongki-nongki canci" sudah ditinggalkan, berganti dengan banyak menghabiskan waktu di musholla, berkegiatan yang bermanfaat (lewat bakti sosial, diskusi, dll), bahkan Mas Gagah bersama beberapa orang mantan preman dibilangan utara Jakarta membuat sebuah "Rumah Cinta", sebuah taman bacaan dan tempat anak-anak sekitar melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Mama Mas Gagah awalnya juga merasakan perubahan Mas Gagah sebagai perubahan yang kurang baik. Semenjak anak laki-lakinya pulang dari Ternate, di rumah sering terjadi pertengkaran antara Gita dengan Gagah. Gita yang sering ngambek dan marah dengan perubahan diri Gagah, dan Gagah yang belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hingga suatu hari, Gagah mengajak Mama ke "Rumah Cinta" dan hal ini membuat mama tersentuh. Sebagai wanita karier yang berjuang membesarkan kedua buah hatinya sendiri semenjak ditinggal sang suami, ia mulai bisa memahami nilai kebaikan dan kebenaran yang selama ini dipegang teguh oleh putra satu-satunya. Mama merasa terketuk hatinya.
Kembali ke Gita, adik manis kesayangan Mas Gagah.
Ditengah kegalauannya akan perubahan yang terjadi pada kakaknya, Gita sering secara tidak sengaja bertemu dengan sosok laki-laki misterius ditengah perjalanan. Kadang di bis kopaja, kadang di transjakarta. Laki-laki ini aneh, kerjaannya di bis adalah menyampaikan ceramah, kemudian turun tanpa meminta imbalan dari penumpang yang ada di angkutan umum tersebut. Aneh, kan? Dan orang ini bicaranya seperti Mas Gagah sekarang.
Dan pernah suatu kali saat Gita bertemu dengan "Mas berbaju kotak-kotak" (karena laki-laki ini selalu Gita temui dalam balutan kemeja kotak-kotak) di transjakarta sedang menyampaikan ceramah. Lalu tiba-tiba tanpa Gita sadari, handphone Gita berpindah tangan. "Balikin handphonenya!", kata "Mas berbaju kotak-kotak" kepada laki-laki disebelah Gita. Sontak ramailah suasana didalam transjakarta. Pencopet handphone Gita sempat mengancam dan melakukan tidakan perlawanan, namum "Mas berbaju kotak-kotak" berhasil melumpuhkan perlawanannya. Ia bahkan menjaga agar si pencopet tidak dihakimi penumpang didalam bis. Alhamdulillah handphone Gita kembali.
Sejak itu, Gita tidak lagi sekeras awal pada saat "Mas berbaju kotak-kotak" menyampaikan ceramah di angkutan umum. Gita ikut mendengarkan. Dan pada suatu kesempatan, Gita bahkan mengucap terima kasih karena sudah menolongnya di kejadian pencopetan beberapa hari yang lalu. Dan ia juga sempat bertanya nama "Mas berbaju kotak-kotak". Mas "Fiisabilillah", begitu yang Gita dengar.
Film Ketika Mas Gagah Pergi merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel kumpulan cerpen Helvy Tiana Rosa pada tahun 1997. Saya sendiri membacanya sekitar tahun 2005 (dulu mah buku-buku bunda Helvy jauh dari katalog bacaan saya, hehehe). Agak berbeda memang, apa yang terjadi di film dengan yang terdapat di buku. Terdapat pengembangan-pengembangan cerita di film, namun tidak merubah dan menghilangkan esensi nilai cerita dari buku. Tapi, lagi-lagi saya katakan, saya tidak akan membandingkan suatu karya literasi dan audio visual meski karya film diangkat dari sebuah buku. It is not apple-to-apple.
Namun saya tetap menikmati film ini. Bayangan saya akan sosok Gita, Mas Gagah, Mas berbaju kotak-kotak cukup tergambar di film ini. 4 bintang utama di film ini merupakan bintang baru dijajaran pemain layar lebar, namun kualitas acting mereka patut diacungi jempol (untuk tokoh 1 lagi, yaitu tokoh mbak Nadia yang belum muncul di film ini, in syaa Allah akan ada di sesi lanjutan film ini. Namun kalau penasaran, bisa liat actingnya di official trailer KMGP). Dan saya paling terkesan dengan sosok Gita. Gita di film benar-benar mengeluarkan imaginasi saya akan sosok Gita yang ada di buku. Saya jadi tertawa sendiri mengingat bagaimana peran Gita dimainkan difilm (itu template wajah Gita emang aslinya merengut gitu ya? soalnya tiap kali ngambek template wajah itu selalu keluar : ekspresif, dan penuh emosi).
Film ini kaya nilai-nilai. Betapa Mas Gagah mengajarkan kita bahwa Islam itu indah, Islam itu damai. Banyak dialog-dialog penuh makna dan sangat menginspirasi kita untuk bisa menjadi "Agen Muslim" yang baik (mengutip dari salah satu film Indonesia favorit saya karya Hanum Rais). Salah satu quote yang saya sukai dari film ini, "Suatu kebaikan, mungkin belum bisa kita pahami. Namun kita bisa mencoba untuk menghargainya".
Ditengah kondisi Indonesia yang penuh dengan hal-hal yang tidak kita harapkan (korupsi, kejadian Bom di Tamrin, aliran-aliran sesat, dll), film ini layaknya sebuah oase di padang pasir, yang menyejukkan dan memberikan suasana segar. Sosok Gagah-Gagah lainnya diharapkan muncul ditengah masyarakat, memberikan inspirasi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan dikehidupan sehari-hari.
Masih penasaran dengan film "Ketika Mas Gagah Pergi"?
Mungkin review saya akan film "ketika Mas gagah Pergi" ini tidak bisa memuaskan rasa penasaran pembaca. Segera datangi bioskop-bioskop di kotamu dan ajak sebanyak-banyaknya orang untuk bisa bersama-sama tersinspirasi dari film ini.
Karena Islam itu Indah.
Karena Indonesia itu Gagah.
![]() |
| hiraukan gambar saya yg posisinya miring ini yaaa.. :) |
p.s : Saya bocorkan sedikit ya, Film ini akan ada lanjutannya. Jadi tetap bersabar menunggu lanjutan film ini ya. Mungkin judulnya seperti yang dibuku " Ketika Mas Gagah Pergi... dan Kembali"
Srengseng, Nisa's Ghurfatun Naum, 25 january 2016 at 14:40
Oiya, Review ini juga saya ikutkan pada lomba Review Film Ketika Mas Gagah Pergi yang diadain sama FLP. Info lebih lanjut bisa lihat di www.kmgpthemovie.com atau www.flp.or.id

wah mba nisa udah nonton? hana pengen nonton tapi belum sempet..
ReplyDeletebtw. bakal ada kelanjutannya? :O
berarti cerita di novel belum terangkat semua ya?
makasih sharingnya mba :D
alhamdulillah udaahh Hana :)
DeleteIya ada part 2 nya, di part 1 ini masih awal perubahan Gagah dan respon orang-orang terdekat terkait perubahan Gagah (khususnya Gita)
My pleasure Hana..
Ayo Nonton..
:D