Sunday, March 7, 2010

cerita ttg sepi

dari sebuah majalah tarbawi edisi januari 2010, nisa mendapatkan sebuah bahan renungan ttg kesepian. rasa sepi yang dialami seorang ibu dalam hidupnya. barisan kalimat yang mengalir tersebut membawa nisa pada kejadian sekitar 4,5 tahun lalu, saat keputusan besar nisa ambil dan membentuk pribadi nisa yg sekarang..

sekitar awal agustus 2005, pagi itu hari ahad. masih cukup pagi untuk bisa terus bangun dan tidak melanjutkan tidur, apalagi mengingat ini hari libur. tp antusiasme yang cukup tinggi untuk tetap bangun, membuat mata ini tak kunjung terpejam. abi pagi itu sedang sepedaan, kegiatan yg biasa dilakukannya dipagi hari saat hari libur. ibu (klu g salah udah pergi kepasar). yg kuingat, sekitar 1/2 6 pagi itu, telepon berdering. kakakku yg menelpon, menanyakan hasil pengumuman SPMBku. alhamdulillah lulus. berita itu ku peroleh semalam, disebuah warnet pukul 22.00 diantar abi untuk melihat hasil pengumuman SPMB via internet.

berita itu membawaku pada sebuah keputusan bahwa aku akan pergi merantau. ada sebuah kegembiraan yg amat besar saat itu. yes, aku akan pergi dari rumah. aku akan jauh dari orang tua. aku akan mngurus kehidupanku sendiri. semarang itu g kya depok, yg walaupun jauh namun masiy bs "dibela2in" wt pulang kerumah dengan cara yg relatif mudah. antusiasme untuk segra merantau begitu besar.

semua kluarga ikut senang? ternyata tidak. ibuku tidak senang dengan hasil itu. maka ibu pun "memaksa"ku untuk ikut ujian masuk politeknik negri jakarta. tentu kutolak. bagaimana mungkin aku melepas hasil SMPBku? aku sudah berjuang, belajar mati2an (walaupun diterima dipilihan kedua). apalagi pasca SMB hingga pengumuman itu tiba, ada jeda waktu yg cukup lama, dmn saat itu aku tak lagi belajar. dijeda waktu itu banyak kuhabiskan untuk berdoa dan tidak lagi berkutat dengan buku2.

hingga saat itu tiba, saat aku untuk berangkat menuntut ilmu disemarang. saat itu aku diantar abi. masih ada perasaan berat, ketidaksepakatan untuk mengizinkan aku berangkat. bahkan saat itu, ibu sempat sakit, sakit ringan memang, namun tekanan darahnya meningkat drastis (ibu sama sepertiku, sama2 hipotensi. namun saat itu tekanan darah ibu sudah masuk hipertensi, walaupun hanya sedikit diatas normal). menurutku, ibu bersikap seperti anak kecil. apa tidak bisa ibu ikut bahagia dengan kebahagiaan yg kuperoleh? sebegitu susahnyakah memberikanku izin untuk sekolah diluar kota? aku paham, ibu begitu khawatir denganku. aku yg lemah, sering sakit2an, tidak mandiri, tidak bs mngerjakan pekarjaan rumah sendiri. tp aku kan bisa belajar? toh aku pergi tak selamanya, hanya sementara. sekitar 4 tahun saja dan aku akan kembali. dan aku bisa saja pulang setiap liburan. begitu pikiranku saat itu.

hingga selesai membaca artikel itu, aku mulai memahami perasaan ibu dulu. ibu akan kesepian ditinggal anak2nya merantau. akan banyak rasa sepi yang datang ketika satu per satu anak2nya pergi meninggalkan rumah, dengan alasan menuntut ilmu sekalipun. maka ibu pun akan mencari kegiatan yg akan menyibukkan dirinya dan mngusir rasa sepi itu.

memang benar, pasca itu ibu mulai sibuk dengan berbagai aktifitas. senam jantung sehat, yasinan ibu2, menjadi petugas jumantik, ikut majelis taklim. tp itu hanya sebagian kecil kegiatan yg ibu lakukan untuk mengisi "hari sepi"nya. selama 24 sehari, selama 7hari seminggu, selama 365 hari setahun, dan terus hingga sekarang. tak bisa kubayangkan yg ibu kerjakan saat sepi itu datang walaupun ibu tetap punya kegiatan untk mengusir rasa sepinya.

puncaknya tahun ini. saat aku belum juga bisa mnyelesaikan masa studi ku (masa kontrak ijin merantauku akan segera habis), saat adikku pun mengikuti jejakku merantau, saat kakakku sibuk bekerja dari pagi hingga malam, maka ibu sendirian (atau kadang ditemani hanya oleh abi). rumah sepi.. itu pasti..

aku tergolong orang yg jarang pulang. hanya pulang saat libur panjang (itupun cm sebentar, aktivitas orgaisasi menuntutku untuk tdk bs pulang lama2, paling lama hnya 10 hari), atau jika rasa kangen tak kuasa dibendung, maka aku akan pulang walupun hanya 2 hari. aku pun bukan pribadi yg mudah menyampaikan rasa sayang lewat bahasa2 lisan, begitu pula ibuku. gengsi kami terlalu tinggi. berani bilang sayang, kangen, dan ungkapan2 kasih sayang lainnya hanya terucap saat jarak memisahkan kita, itu pun cm via telpon.

maka ibu, malam ini nisa berjanji. untuk segera pulang dan membantu menghilangkan rasa sepi mu.. akan ku selesaikan semuanya, dan segera pulang menemuimu.

miss u so, ibu..

*gtw knp, semalem nisa metal bgt. rasa sakit mendera, kerinduan tak terperi, dan smakin membuatku ingin menatapmu, ibu. diiringi "song for mama"nya boyz2men dan butir2 air mata, yg sudah sekuat tenaga kucoba tahan namun ternyata gagal, mulai menetes

7 comments:

  1. ... Tak pernah akan cukup... Waktu itu...

    ReplyDelete
  2. @uda fajri..
    waktu yg tak pernah cukup..
    maksudnya apa uda?

    ReplyDelete
  3. Waktu buat menemani 'sepi' ibu... Tak akan pernah mampu terbalas... Apalagi, bg seorg da'i, waktu bukan dari rentang menit,jam,dan hari. Tp kata2 proses, keefektifan, dan manfaat.

    ReplyDelete
  4. walaupun waktunya terbatas..
    setidaknya diwaktu yg sempit itu dalam bermanfaat untuk menikmati kebersamaan bersama ibu..

    nisa mnyesal, krn dulu selalu menjadi "rival" yg baik wt ibu, selalu ajah cek-cok..
    :'(

    ReplyDelete
  5. terharu sungguh baca cerita nisa

    nisa, pergi untuk kembali bu^^

    ReplyDelete
  6. @mb i..
    don't cry sista..

    @mb phiks..
    kya lagunya elo ajah..
    ^^

    ReplyDelete