Wednesday, February 17, 2010

Kemandirian finansial (ternyata) sebuah keharusan..

nisa hobi nyimpen artikel atau postingan atau catatan temen2 dari internet. pas lagi nyimpen salah satu postingan, ada cerita yg mengingatkan nisa dgn kisah yg diceritakan Prof.Sus (rektor Undip) pas lagi audiensi ttg PMB setahun lalu, pas nisa masiy di senat.

Ujian Mandiri beberapa universitas negri dirasakan sebgai salah satu bentuk komersialisasi pendidikan. karena dengan mengadadakan ujian mandiri, universitas sebagai badan hukum pendidikan berhak *mempunyai otoritas* untuk menetapkan biaya pendidikannya sendiri. dan dengan ujian mandiri, universitas sebagai lembaga pendidikan, dapat melakukan open rekrutmen peserta didik lebih awal (makanya UM itu lebih duluan dibandingkan SMPB, UMPTN, atau SNMPTN namanya). sehingga peserta didik yg "lebih pintar"akan tersaring lebih dulu. ini juga alasan knp prosentasi dalam UM maupun seleksi  otoritas sebuah universitas menempati porsi yg lebih tinggi dibandingkan dengan seleksi bersama (SPMB, UMPTN, atau SNMPTN).

yang membedakan antara ujian mandiri dan seleksi bersama(khususnya di Undip, nisa kurang begitu paham dgn universitas lainnya), pada ujian mandiri memiliki nilai nominal yg harus dibayar yg besarannya berbeda ditiap fakultas maupun jurusan, klu di undip namanya SPMU. baratnya kya uang pangkal. di UM UGM jg ada dink, UM nya ITB jg ada. dan besarnya bervariasi bergantung akreditasi dan ketenaran jurusan.

hal ini tentu sangat memberatkan peserta didik, terutama orang tua. mau kuliah tp terhenti oleh besarnya biaya awal yg harus dikeluarkan. makanya, kita melakukan audiensi. juga untuk mengkonfirmasi mekanisme penerimaan mahasiswa, apakah bergantung dari besarnya sumbangan yg dituliskan atau dari nilai.

sampailah pada suatu cerita ttg UM. ada seorang anak"dusun" dari kabupaten pati yg mendaftar pada jalur UM, dengan nominal terendah yg tertera(karena tidak bisa menuliskan Rp o,-; klu pun bisa, itu peluangnya 1:1.000.000 alias hampir dikatakan mustahil). si anak, sebut aja namanya Ani, memperoleh nilai yg paling tinggi dibandingkan seluruh peserta yg lain. bahkan bisa dikatakan nilai yg sempurna. namun, karena tidak memiliki biaya, Ani pun mencoba mendatangi birokrasi kampus untuk melakukan advokasi pembayaran. pihak universitas pada awalnya melakukan penolakan, namun kesempurnaan nilai Ani, membuatnya bertemu langsung dengan Prof. Sus, rektor Undip, untuk ditawarkan sebuah beasiswa, full beasiswa bahkan (uang saku tiap bulan, ditambah biaya kuliah tiap semester). tentu saja Ani senang dan tak akan melewatkan kesempatan ini. dengan latar belakang ani yg memang bener2 g mampu (mpe dilakukan survey kerumahnya untuk membuktikan bahwa memang dya g mampu, bukan ngaku2 miskin).

tapi, pada hari terakhir daftar ulang, Ani tidak datang. dan disaat2 terakhir, Prof.Sus menerima sebuah pemberitahuan yg isinya menerangkan bahwa Ani meminta maaf karena tidak bisa melakukan daftar ulang. Ani memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi.

Kemudian Prof. Sus dan jajarannya mengunjungi rumah Ani di Pati. karena Ani merupakan bakal calon mahasiswa yg sangat potensial. Rumah yg sangat sederhana.melihat Prof Sus datang kerumahnya, Ani terharu dan menangis.

Prof sus kemudian mengklarifikasi batalnya Ani untuk kuliah, juga melakukan penawaran ulang ttg full beasiswa yg akan diterima Ani.

"Maaf Pak, saya belum bisa menerima tawaran bapak. Sungguh, saya amat menginginkan kesempatan itu. namun saya tidak bisa. karena saya adalah anak pertama dari keluarga ini. saya adalah tulang punggung keluarga. saya tidak bisa belajar, menuntut ilmu sementara keluarga saya disini tidak bisa ditopang ekonominya. adik saya masih kecil2"

mendengar penjelasan Ani, air mata Prof Sus pun jatuh. Prof Sus pun tak bisa berbuat banyak. sungguh akan sangat tega sekali, ketika ia "mengambil" satu2nya penopang keluarga itu. mau makan apa keluarga itu tanpa ada yg bekerja.

maka kemudian Prof sus pamit, pergi dengan sebuah hal yg mengganjal dihati.

Ani adalah satu dari sejumlah besar anak di Jawa Tengah yg sangat berpotensi untuk melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan tinggi yg merupakan tulang punggung keluarganya. apabila orang2 seperti Ani "diambil"untuk bersekolah, maka perekonomian keluarga akan hancur.

inilah kemudian yg mendorong Prof Sus untuk menggiatkan beasiswa yg berlatar wirausaha. sehingga ketika anak2 berpotensi tsb "diambil" untuk bersekolah, maka perekonomian keluarganya tidak akan hancur. Anak2 tersebut akan dapat terus bersekolah, mengjar cita2nya, namun tetap dapat mengirimkan uang dari kerja yg dilakukan.

belajar dari kisah Ani, kita tentunya amat beruntung, dikaruniai kesempatan untuk berkuliah, diberikan uang saku yg memadai, diberikan fasilitas untuk menunjang kehidupan kuliah kita. namun seringkali kita tidak bersyukur, selalu aja merasa kurang. selalu aja mengeluh.

Abi sering bilang, klu kuliah itu g sekedar hanya sekedar mencari ilmu dan memperoleh nilai A, tapi kuliah adalah sekolah pendewasaan. sekolah kemandirian, bahkan dalam segi kemandirian finansial (apalagi nisa masi ngandelin beasiswa "BI" alias "nadah" ma bapak Ibu). kematangan kita sebagai seorang manusia yg beranjak dewasa. makanya, jangan sia2kan setiap peluang saat menyandang status mahasiswa, karena Status tsb adalah status tertinggi dalam masyarakat. pergunakan kesempatan untuk belajar apa saja (manajerial, wirausaha, disain grafis, belajar advokasi dan hukum, belajar kehumasan, decision maker's learning, dll)...

sehingga selepas dari pendidikan "miniatur masyarakat", kita dapat mengabdi dan bermanfaat bagi masyarakat..

*menuliskan yg diingat dari perbincangan ringan seorang "ayah" dengan "anaknya", dengan berbagai perubahan(karena ingatan nisa tidak setajam itu dalam mengingat persis setiap cerita kehidupan..)

9 comments:

  1. nisa mantab!
    penanya skrg tajam!

    iya yah
    sungguh merasa tertampar diriku
    hehe

    spakat ama abinya nisa

    ReplyDelete
  2. Mm...ya separahnya2mengelola uang BI jangan mpe abis..dimenej biar selalu sisa paling ga 40 persen...30 persen diinfaqin, 10 persen jadi saving.C#

    ReplyDelete
  3. hidup itu pilihan nis...dan menurutku pilihan apapun asalkan ia bertanggung jawab atasnya dan didasari alasan yg kuat...sah sah aja...orang besar tidak diukur dari pernah mengecap bangku kuliah atau tidak kan...?

    nah yang punya tanggung jawab u/ mengurusi permasalahan tersebut ya pemerintah...dengan peran serta aktif universitas terkait...harus concern dengan masalah tersebut...

    ReplyDelete
  4. memng harus agar bisa seperti Abu Bakar As Sidiq rodhiyallohu 'anhu.
    Si Kaya tapi bisa masuk syurga dari semua pintu syurga.

    ReplyDelete
  5. @mb ii...
    aku kan ngetik mb... hehehehe..
    jd g pke pena... ^^

    @aisha..
    yg nisa tau, Ani kerja..
    tp prof sus g cerita lanjutannya gmn...

    @fatah...
    nah itu dya tah, nisa tuh boros bgt...
    masiy belajar manage keuangan, yg wt ditabung ud g ada..
    itu masuk alokasi cadangan klu si adek tiba2 pngeluarannya lg bnyak2nya..

    @mas mip2..
    iyah mas, kuliah itu kan pilihan.
    lg an belajar mah gcm diperkuliahan doank ko..
    sepakat bgt ma pendapat mas mip2...

    @om jsattaubah.. (nisa bgg mau panggil apa??)
    ky bukunya aa gym jg ok tuh, sy tidak ingin kaya tapi harus kaya..

    ReplyDelete
  6. Saya bukan Om jsattaubah.
    Saya Jumadi Sanubari AHmad

    ReplyDelete
  7. baiklah om jumadi sanubari ahmad..
    panjang jg yah..

    klu om jsa,aj bole?

    ReplyDelete