Ø Ikhlas
Ikhlas adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan oleh setiap orang, termasuk orang munafik dan kafir sekalipun. Tetapi sejatinya kata inilah yang paling berat dan paling sulit untuk direalisasikan. Terkadang para dai mampu menjaga keikhlasan di awal perjalanan, tetapi di tengah jalan berbagai macam ujian dan cobaan menghadangnya sehingga dia menjadi kendur, luntur dan jatuh kecebur sumur riya’ dan ujub. Na’udzubillahi min dzaalik.
Akumulasi dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji menyatu pada keikhlasan. Sementara, tanpa keikhlasan tidak ada lagi hati dan akhlak. Hati kosong dan gersang menjadi sarang penyakit. Mulut berbusa mengeluarkan kata-kata tanpa makna. Anggota badan bekerja bagai robot kasar tanpa rasa dan hati. Sampai-sampai orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya.
Keikhlasan merupakan mutiara teramat mahal yang harus dimiliki setiap mukmin dan para dai. Mutiara yang harus senantiasa dibersihkan dari berbagai macam kotoran dan debu. Apalagi bagi qiyadah dakwah. Jundiyah muthi’ahqiyadah mukhlishoh (kepemimpinan yang ikhlas) itulah kedua pilar utama gerakan Islam. Keduanya harus berjalan secara padu dan harmonis untuk meraih kesuksesan harakah dakwah di medan kehidupan.
Keikhlasan membuat beban menjadi ringan, kesusahan menjadi hiburan, musibah menjadi pembersih hati, penjara menjadi pesantren, pengusiran menjadi rihlah gerakan, harta menjadi jalan kontribusi yang signifikan, dan kekuasaan menjadi amanah perjuangan. Sungguh indah kata-kata mutiara Ibnu Taimiyah yang diungkapkan secara jujur, “Penahananku adalah perenungan, pengusiranku adalah tamasya, dan pembunuhanku adalah syahid.”
Selama hampir empat tahun menjalani proses tarbiyah, mengaplikasikan ilmu ikhlas adalah hal tersulit. Banyak faktor memang. Alhamdulillah, seiring berlalunya waktu dan berjalannya proses-proses tarbiyah yang memberikan pengertian dan pemahaman, keikhlasan itu punya arti yang lebih bermakna. Meski terkadang, banyak khilaf yang membuat makna ihklas itu kabur. Sekali lagi, semuanya bermuara ke hati. Karena amal bersifat fisik sedangkan ruhnya adalah ikhlas.
Ø Taat
Taat adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, saat bersemangat maupun malas. Akan terasa tidak mudah saat di masa-masa sulit harus menjadikan perintah yang kita terima berhenti di titik ketaatan. Namun itulah tarbiyah untuk saya. Tidak seorang rasul pun yang tidak mengharuskan kaumnya agar melaksanakan dua hal yaitu : taqwa dan taat. Tanpa ketaatan, maka tidak akan ada jamaah, tidak ada gerakan, tidak ada sistem, tidak ada keridhaan allah, tidak ada jihad dan tidak ada tujuan yang dicapai.
Ø Istiqomah
Adalah perintah istiqamah yang membuat Rasulullah saw berubah. Ia adalah gerak yang tak kenal henti. Ia adalah keteguhan yang tak kenal menyerah. Ia adalah bukti kejujuran pengakuan siapa pun yang mengaku bertuhan Allah. (Rahmat Abdullah, Pilar-Pilar Asasi)
sip
ReplyDeleteJFS y nis...
ReplyDelete@mb i n mas mip2..
ReplyDeletesama2...
^^..
mengingatkan diri sendiri jg ko...
nis, tulisane kok tumpuk2 karo gambar mburine...mumet mboco ne.
ReplyDeletehehehe...
ReplyDeletesegera diperbaiki mb...
af1...
jkfs nis.. :)
ReplyDeletesmoga kita tmsuk dlm golongan hamba2 yg ikhlas, taat dan istiqomah..amin
syukran
ReplyDeletebagus,.. bagus.. makin hari postingannya semakin berkualitas
ReplyDeletemengalirkan enegy positif
jangan posting tentang buaya lagi...
jadi bikin yang bersangkutan eksis (dihati)... semakin dibenci semakin membawa arti